Fongers 1930 CCG 60 3023-44 ‘speciaal bandrem’ (1)

tampak-samping-kiri2 tampak-samping-kanan

Tampak samping, perhatikan katengkas ‘FONGERS’

 ccg60-rem-botol

Asli rem botol asli!

nomer-frame1

3023-44, aslinya setang ini krom namun dipowder coating black, soalnya pemilik menyukai warna hitam.

Siang itu ada SMS masuk dari pak Manu ke HP-ku, bunyinya “pak Andyt apakah ada Fongers COG 60 menggunakan rem botol”. Kujawab cepat-cepat bahwa yang benar CCG bukan COG, kemungkinan CCG rem botol ada sangat besar, walaupun aku belum pernah melihatnya. Aku teringat cerita di Wiwinaked minggu-minggu sebelumnya bahwa di Jogja pernah dijumpai CCG dengan rem yang selama ini dianggap hanya opsi Fongers BB. Penasaran pengin melihatnya, kutancap Jupiter MX berboncengan dengan pak Manu, tak kuperdulikan mendung pekat menggayut langit Surabaya. Ternyata tujuannya adalah gudang yang sama tempat ditemukan BB60 dan Cycloide Elite setahun lalu. Saya berharap menemukan harta karun lagi, dan semoga memang benar CCG 60 rem botol asli, bukan bongkaran dari BB60 atau jejadian iseng. Kondisi gudang yang cukup gelap dan pengap membuat kurang bisa dikenali apakah sepeda ini CCG atau bukan. Untunglah si penjaga gudang mempunyai senter dan segera kurebut dari tangannya. Pak Manu sempat berujar: “sabar bos, sampeyan kalau lihat Simplex atau Fongers langsung napsu”. Maklum aku penasaran banget belum pernah menemukan CCG dengan opsi rem legendaris itu. Ternyata benar sepeda Fongers CCG ukuran 60 dengan rem botol orisinil asli bawaannya. Terlihat dari bentuk garpu depan-belakang dan supitannya khas sekali berbeda bukan duplikasi BB, sebab bentuk semua komponen itu berbeda dengan BB, namun garpu-supitan lebih mirip seri H dibanding BB, yakni tempat dudukan as roda di ujung bawah kaki-kaki garpunya berlobang seperti huruf ‘O’ bukan seperti huruf ‘C’ tengkurap. Sedangkan persamaan dengan model rem kawat U adalah adanya kawat transmisi rem yang naik-turun-naik beserta komponen-komponen dudukan engsel cantolan transmisi rem itu. Persamaannya dengan BB rem botol ada di cenilan dudukan rem botol pada bagian dekat ujung atas garpu dan model ‘tapal kuda fleksibel’ sebagai setutan pada karet rem botolnya. Kuseret sepeda itu keluar gudang, kedua rodanya nyaris tak bergerak. Tebalnya karat bertahun membuat as dan bos depan lengket total. Alamak…buatan tahun 1930! seruku tercekat ketika melihat deretan angka 3023-44 di sock bawah sadel. Kuamati lekat-lekat bagai mengamati gadis cantik. Deras hujan cepat sekali membasahi punggung, namun tak kuhiraukan. Aku bayangkan batukku pasti kumat lagi bila kena dingin dan isteriku pasti ngomel-ngomel lagi. Ah, biarin saja..soal itu urusan nanti.

 transmisi-rem-depantransmisi-rem-belakang

Setutan rem asli yang masih berfungsi seperti ini sepertinya amat langka

Yang penting CCG 60 rem botol yang amat langka ditemukan dalam kondisi nyaris utuh di Surabaya! Kecuali sudah dicat ulang yang (lagi-lagi) jelek banget dan keluar dari pakemnya. Kondisi yang paling memprihatinkan barangkali hanya di setang dan rem botolnya. Bentuk setang sekilas agak mirip BB60 (yang dilelang di Jogja dengan baut ada di bagian bawah setang -bukan dibelakang- yang kini dikoleksi pak Rendra Karawang). Tersisa hanya satu rem botol menempel di garpu belakang kiri. Rem yang lain raib entah kemana.. Lega hatiku ketika penjaga gudang itu mengatakan kalau rem-rem yang lain ada di tukang reparasi, tinggal masang, katanya lagi. Beres pikirku, namun nanti dulu…sepeda ini kan milik pak Manu? Wah semangat ku jadi kendor lagi…Iya kalau sahabatku itu merelakan sepeda ranking kedua pada strata produk Fongers era 1922-1940 ini untuk aku. Bagaimana kalau dia akan pakai sendiri? Benar juga, pak Manu rupanya tertarik. Maklum kami berdua termasuk anggota SIMNGERS alias ‘hanya bernafsu pada Simplex dan Fongers saja’. Jadi rasanya nggak pantas kalau sekarang aku ngotot merebutnya. Wajar kalau tertarik, soalnya dia juga tahu kalau CCG rem botol ini varian super langka.

 perbandingan-front-hubs

Perbandingan front-hubs  antara BB (kiri) dengan CCG (kanan)

perbandingan-rear-hubs

Perbandingan rear-hubs antara BB (kiri) dengan CCG (kanan). Pada CCG mirip dengan seri H.

Namun anehnya sepeda itu tidak segera dibawanya pulang. Bahkan Rp.200.000 sebagai tanda jadipun diambil dari dompetku. Sepanjang perjalanan pulang kami tak banyak bicara, kecuali aku mulai batuk-batuk akibat dingin hujan deras menerpa. Sial, sepeda tak di dapat malah batuk yang kumat. Malam itu dan dua malam berikutnya menjadi ‘malam jahanam’ sebab aku tak dapat tidur nyenyak karena kepikiran sepeda ini terus. Untungnya malam itu mr.T jadi teman diskusi yang menyenangkan. Di hari ketiga aku di SMS pak Manu kalau sepeda sudah berada dirumahnya. Untungnya Jurusan DKV masih libur sehingga aku bisa sewaktu-waktu keluar kampus. Setelah lebih dari sejam kuperhatikan di bawah terik matahari siang, mulai terbayang kesulitan merenovasi sepeda ini. Dari 4 rem botolnya ternyata hanya 3 yang ada, itupun 2 tanpa pegas dan penutup. Kami saling terdiam dan kemudian mendiskusikan kesulitan yang bakal menerpa. Intinya saat itu adalah pesimis. Namun anehnya hasratku untuk memperbaiki dan merestorasi bukannya surut….malah makin menggebu. Gejolak hasrat seperti ini belum tentu muncul dalam setiap proyek restorasi. Kuhitung hanya muncul ketika merenovasi Cycloide Elite, Cycloide Kruisframe, Luxe 680, dan BB60 saja, yang lain nggak. Rupanya sejak awal pak Manu kurang tertarik sebab dia masih punya tanggungan merenovasi BB65, dan 3 HZ yang tak kunjung usai. Oleh karenanya segera mempersilahkan aku memilikinya. Sahabatku itu berjanji akan membantuku merenovasi. Sepeda ini kubopong kerumah hari Sabtu Wage jam 15.30 dengan dibonceng karyawannya, sebab kedua rodanya tetap tak mau digerakkan. Saat itu hujan cukup deras. Sesuai dengan ramalan Mr.T di SMS tiga hari lalu. Pasti akulah pemilik sepeda nantinya. Segera aku membuat draf skenario restorasi, pertama dari setang, lalu sistem roda, rem botol dan jalur remnya, serta terakhir cat, strip, dan transfer merk. Menurut perhitunganku restorasi memakan waktu 3 bulan bila lancar. Tim yang membantuku mereparasi BB60 setahun lalu kukontak lagi dan mereka dengan antusias berkenan membantu. Mas Towil Podjok yang ku SMS bersedia mencarikan gantinya ketika setang Fongers koleksinya keberatan kulamar. Malah pelek Kronprinz istimewa koleksinya ditawarkan sayangnya tak terjangkau. Tampaknya aku harus menabung dulu. Demam sepeda kuno 3 tahun terakhir ini makin menyulitkan pencarian onderdil. Dari diskusi dengan Jos Ritveld, dan mempelajari foto-foto koleksi sepeda yang dikirimkan pakar Fongers tingkat dunia maupun dari situsnya itu kuperoleh informasi bahwa konstruksi jalur rem CCG tidak jauh berbeda dengan BB dan HZ produksi tahun yang sama. Bersyukurlah, salah seorang rekanan dari Bangil berhasil mengatasi kesulitanku dengan menghibahkan instrumen tube jalur rem persis seperti kiriman foto Jos. Luar biasa! orisinil lagi…diberikan untukku setelah puluhan tahun disimpannya. Rem botol belakang kanan kudapatkan dari upaya replika pak Manu dengan mesin bubutnya. Tak hanya itu saja, aku juga menemukan 2 pegas dan tutup rem botol saat bongkar-bongkar kardus di bengkelnya. Rupanya sisa ketika mereparasi BB65-nya dulu. Semua hanya minta dibarter sepasang pedal Weco Germany. Padahal saya pernah menolong penggemar Fongers BB dari Surabaya membuatkan satu rem botol di tukang bubut kenalan kami di daerah Gembongan, saat itu dikenakan biaya Rp.400.000 per biji. Tak salah kalau mahal sebab konstruksinya njlimet, kecil, dan memerlukan ketelitian dan presisi yang sangat tinggi. Selisih 0.25mm saja sudah nggak bisa. Rasanya nggak sabar melihat bagaimana pak Manu bekerja menduplikasi tabung rem botol itu. Sangat njimet, lama dan telaten..dikit-dikit diambilnya Mitutoya untuk memastikan kerigidan presisi. Mata bornya saja Sandvick, bukan buatan Jerman apalagi Tiongkok. Setang di powder coating gratis di bengkel pak Bejo –tetanggaku teman mancing kakap- di Buduran (jasa industri powder coatingnya terbaik se Jawa Timur). Roda dibenahi di bengkel pak No Nuri. Konstruksi as, kones, mur kontrak, piringan, yang ternyata masih asli tetap dipertahankan, hanya ganti peloran Germany dan stemvet Top One setelah sebelumnya setengah botol WD-40 kuhabiskan buat melepas as dan bos roda yang melekat berkarat. Pelek depan belakang melekat KronPrinz lobang 36, berarti sepeda ini dulu bukan spek untuk angkut berbagasi atau berboncengan sebagaimana Fongers yang kerap ditemukan dengan spek lobang 40. Karet rem dan rem botol kali ini kukerjakan sendiri berdasarkan pengalaman reparasi BB tahun lalu. Karet rem (rubber-pad) kuambilkan dari rem karet yang dijual sekarang. Tinggal menyesuaikan ukurannya. Kugunakan lem kampas kopling/rem mobil kuno untuk melekatkannya. Ban dalam kugunakan IRC kiriman kang Tatank PSB Bandung. Ban luar Schwalbe silver kudapat dari link mas Johannes Podjok dua tahun lalu. Rantai menggunakan Union Germany, kiriman sahabat terbaik ontel anggota PSB tersebut setahun lalu. Spakboar depan bawah keropos sangat parah sehingga dipotong 1,5 cm lebih dan tampak agak ‘cingkrang’ sebab tiadanya spakbor ekstra buat penyambungnya. Cat kuoplos antara Danagloss Extreem solid black dengan satu merk kurang terkenal yang biasa dipakai mengecat kapal di Sidoarjo. Begitu pula tiner A Special cap Bintang dan produk lokal Sidoarjo untuk memberikan campuran efek kilau, hitam dan keras agar tidak mudah terkelupas. Epoxy Danagloss kupakai sebagai lapisan cat dasar. Dibantu kompresor Sagola 777 (12 psi) dan airbrush Badger USA medium, dan tak lupa penutup hidung. Hujan yang turun tiap hari menyebabkan proses pengecatan molor dari waktu yang seharusnya. 4 hari baru selesai. Padahal seharusnya 2 hari. Sehari epoxy sehari cat. Ekstra dua hari untuk compound. Strip menggunakan cat Nippe oplosan warna hijau, kuning, dan putih untuk menghasilkan warna hijau tosca khas Fongers. Finishing memakai compund halus untuk memberi efek aus pada stripnya. Selama itu rumah kami menjadi berbau serasa bengkel cat. Anehnya, batukku malah sembuh kena uap tiner dan cat oplosan.

rem-botol-satu-ini-yang-replika

Hanya rem botol satu ini yang replika, namun dudukannya asli.

Ada cerita lucu ketika mahasiswi datang kerumah untuk bimbingan skripsi di saat aku lagi ngecat spakbor. Aku nggak PEDE nemuin si cantik berbibir gemas dalam kondisi kumel begini, untungnya ia tidak mengenaliku dan ngeloyor pulang lagi, pangling dengan wajahku yang berpenutup hidung ala dokter gigi. Esoknya dia bilang kalau kerumah tapi nggak ketemu, hanya ada tukang lagi ngecat, baunya menyengat sekali….Hahaha. Dua hari lamanya aku merakitnya kembali. Paling lama di setting kayuhan dan rantai, agar tercapai hasil maksimal. Jam 23.03 selesai dirakit, tongkrongannya serba hitam, berkilau dan gagah sekali. Mirip sekali dengan The Royal Sunbeam 1920. Seketika malam itu kupancal, luar biasa! Sangat nyaman, enteng dan nyaris tanpa suara. Kombinasi gear 48 piringan ‘obat nyamuk’ dengan The British Villier 20 memang sangat nyaman di jalanan Surabaya yang datar. Saya bilang kalau kenyamanannya setara dengan Cycloide yang all bearings! Namun saya yakin makin lama akan makin nyaman lagi, sebab komponen sudah mapan dan fix.

bersama-pak-manu1

Mejeng dengan BB dan pak Manu.

Sepeda pancal biasanya akan makin nyaman bila semakin sering dipakai. CCG rem botol ini senyaman Cycloide, begitulah pengakuan  rekan-rekan Paguyuban Pakkar Sidoarjo yang sudah merasakan. Salah satu indikator sepeda yang nyaman adalah kesempurnaan settingan pada hubs roda (as, bos, kones, gotri, mangkokan) terutama di roda belakang. Ada semacam test kecil untuk menguji ini. Pertama, pastikan dulu kondisi roda tidak oblak semilipun, lalu atur roda sedemikian rupa sehingga bagian pentil ban belakang terletak di bagian atas. Kedua, angkatlah bagian belakang sepeda sehingga roda menggantung bebas atau terbebas dari jejakan bumi, jika menggunakan standar/jagrag ganda akan lebih mudah. Ketiga, tanpa dikayuh atau diputar roda/rotel kayuhannya amatilah apakah roda akan bergerak sendiri sehingga bagian pentil turun. Hitunglah berapa kali bagian pentil bolak-balik naik turun. Jika lebih dari 2 kali, maka as dan bos roda sudah terpasang sempurna. Inilah yang disebut less friction, dan menjadi kontributor utama kenyamanan sepeda. Jika belum, maka ada yang salah dengan settingan roda atau komponen pada hubs-nya. CCG ini mampu 4 kali naik-turun! Less friction untuk sepeda dengan konstruksi free-wheel (rem karet) dan torpedo memang lebih bagus dibanding rem tromol. Sekali membalik saja sudah bagus. Kalau pada Simplex Cycloide less friction juga dihasilkan dari as kayuhan (braket) akibat kinerja bearing.  (Bersambung)….

Minggu Depan, komentar Jos Rietveld, Andre Koopmans, dan foto repro dari The Seriegarantieboeken yang tersimpan di De Groninger Archieven (semacam perpustakaan) Fongers Groningen tentang data penjualan Fongers CCG 3023-44 kepada NV. AJW Avis, Soerabaia, 31 Agustus 1931

Untuk kali yang ketiga ini kuperoleh sepeda super dari pak Manu (Simplex Priessterijwiel, BB60, dan CCG60). Terimakasih pak Ndeh, cak Jun, pak No Nuri, mas Ndut Gondrong, cak Sahroni, cak Ali Jombang, mas Towil Podjok, kang Godam PSB atas ‘sumbangan’ transfer mereknya….dan last but not least, kang Tatank PSB bagi masukan dan supportnya sehingga terwujud rindu dendam CCG rem botol ini. Bagi rekan-rekan yang mempunyai CCG/BB atau varian lain Fongers orisinil rem botol (?) dan berkeinginan melakukan proses restorasi seperti ini atau memerlukan saran/diskusi/supervisi berkenaan dengan itu, silakan..GRATIS. Hubungi via email: andrian@peter.petra.ac.id atau add: di http://www.facebook.com, atau kopi darat di markas Paguyuban Kereta Angin Rewwin (PAKKAR) tiap Sabtu pagi 07.00-10.00. Mohon maaf diluar jalur itu tidak disediakan. 

Artikel dan Foto : Andyt Andrian Nikon D-200, Lensa VR 28-120 (3.5-5.6)



%d bloggers like this: