22.24.26=52.55.60.62

1f21_4.jpg

Fongers HZ750 mm koleksi Andre Koopmans

Sepeda yang tingginya diatas ukuran 60, kini menjadi barang buruan baru. Berbagai alasan yang melatarbelakangi perburuan ini, salah satunya adalah penampilan. Sepeda ukuran tinggi memang  kelihatan stands out bila disandingkan dengan sepeda berukuran normal. Fenomena mengkoleksi sepeda tinggi tak hanya dilakukan oleh mereka yang mempunyai tinggi badan mendukung untuk mengayuh pedalnya, namun juga dikalangan penggemar yang mempunyai tinggi badan tidak mendukung. Alasan penampilan yang gagah dan kokoh mendasari mereka untuk mengkoleksinya. Sepeda memang tak harus dinaiki, namun menjadi pajangan dan hiasan ruangan yang unik dan indah dipandang. Banyak yang merasa pulih batinnya setelah penat menerpa seharian bekerja dengan mengamat-amati sepedanya. Terlebih lagi apabila didukung dengan tata cahaya lampu yang memadai. 

1929-gazelle-xframe.jpg

Gazelle xframe 1929 ukuran 650 koleksi Andre Koopmans

beside-fongers.jpg

Fongers HZ65 1922 ukuran 65 koleksi Andrian Hagijanto

Ukuran sepeda di Indonesia menggunakan 2 pengertian, yakni mengacu pada panjang pipa tube depan dan frame dibawah sadel. Penyebutan ukuran tinggi sepeda selalu dikaitkan dengan dengan nomor yang menujukkan panjang pipa frame dari atas (dibawah sadel) sampai bawah (bracket tempat as kayuhan). Oleh karena itu sepeda disebut berukuran 65 adalah sepeda dengan panjang pipa 650 mm. Sistem ini digunakan oleh Fongers, Gazelle dan beberapa sepeda buatan Inggris seperti trio populer Inggris yakni Humber, Raleigh, dan Rudge. Sedangkan untuk Simplex memakai angka 68 untuk sepeda yang ukurannya 65 menurut kaidah Fongers. Yakni panjang dari ujung pipa bawah sadel sampai titik tengah bracket. Dengan kata lain, 680mm total panjang pipa ditambah panjang pipa sock pada bracket adalah sama dengan 650mm hanya panjang pipa saja.  

 dsc_0049.JPG

 St. Etienne, France 1940 ukuran 550 koleksi H. A. Munief  (Pakkar)

Beberapa daerah di Jawa Tengah menyebutnya dengan ukuran yang merujuk pada panjang tube depan, sehingga muncul istilah ukuran 22,24, dan 26. Ukuran tube depan 22cm, maka pipa frame biasanya 550/580mm, sedangkan 24 (600/620mm), dan 26 (650/680mm). Walau beberapa sepeda jenis frame dames menggunakan ukuran yang lebih pendek, yakni 500/520mm, dan menggunakan panjang tube yang kurang dari 22, namun tetap memakai istilah ukuran 22.  Beberapa negara di Eropa menggunakan ukuran yang mengacu pada besarnya ban yang digunakan, sehingga muncul istilah 28″ (untuk ukuran sepeda kebo), lalu 26″ (untuk sepeda tanggung, di sini dikenal dengan ukuran seperti sepeda jengki Phoenix), lalu 24″, 20″ sampai 18″ untuk sepeda mini.  Sepeda dianggap tinggi oleh ukuran Indonesia adalah 60cm (600/620mm), walaupun kenyataannya ada beberapa sepeda dengan tinggi diatas 620, yakni 680 (65). Walaupun di negara aslinya, hampir semua sepeda Belanda, Inggris dan  Jerman mempunyai ukuran di atas 680, seperti contohnya Gazelle 720mm, atau Fongers CCG dengan ukuran 750mm! (Andyt Dyoda)

23 Responses to “22.24.26=52.55.60.62”


  1. 1 mr.t October 3, 2007 at 8:31 am

    ini sih bukan buat dipake ane ya mas..heheh manyaff hari gene masih ada yg begono…ck..ck..ck

  2. 2 wong-cilik October 19, 2007 at 8:17 am

    sepeda yg paling atas emang multi fungsi…

    selain enak di pandang & pajang bermanfaat pula buat ngejemur handuk sehabis mandi…he he he..

    acara di Surabaya bln november nanti bagaimana mas ?

    gaungnya sudah sampe Jakarta lho…bocorannya dong..🙂

  3. 3 mr.t October 30, 2007 at 4:23 am

    hehehe..mas andyt nya aja belum tahu yg orang sono..bwahahahh….

  4. 4 mamad November 6, 2007 at 2:01 pm

    nyuwun sewu mas, seri Gazelle xframe 1929 ukuran 650 koleksi Andre Koopmans tu ada yang punya gak di Indonesia?dijual gak?kalo dijual minta brapa?betul2 unik.teng yu.

  5. 5 Andyt November 8, 2007 at 10:18 am

    mas mamad,

    Sejauh pengamatan saya, Gazelle x-frame yang beredar di Indonesia bukan yang model seperti ini, tapi yang cross-nya duplex tahun 1950-an. Kalau masalah dijual atau nggak saya nggak bisa menjawab, silakan kontak langsung ke Andre Koopmans.

  6. 6 moch. iqbal chahyadi November 17, 2007 at 6:58 am

    wah, ga tahu nih pada ngomong apa???

  7. 7 Andyt November 19, 2007 at 1:16 am

    kalau jualan tahu jangan disini mas. Ente yang binun sendiri

  8. 8 mr.t November 20, 2007 at 7:18 am

    heheh…di kereta api tahu..tahu..tahu..tahu..seribu 8..seribu 8..wakakakk

  9. 9 setiawan December 31, 2007 at 7:56 am

    Mohon maaf.. saya punya sepeda tua, katanya sich merek fongers kalo dilihat dari pelek dan slebornya. masalahnya mereknya sudah ndak kelihatan lagi alias sudah di cat ulang. serinya 325600. Terus saya punya lagi yang ukuran mini mereknya “amstrong”. Bagi teman2 yang hoby sepeda mungkin bisa memberi informasi tentang sepeda yang saya punya. Terima kasih….

  10. 10 jallu August 25, 2008 at 2:03 pm

    mas andyt,
    mau nanya nih,soalnya penting

    saya dapet frame sepeda ukuran 60 merk RECORD,kalo di emblemnya ada tulisan berbahasa belanda,kalo di frame ada transfer merk berbahasa inggris,di spakbor ada emblem toko yang lokasinya di semarang…..
    kira-kira sepeda apa yah itu?
    saya mohon infonya di rangga.jallu@yahoo.com
    please,soalnya saya bingung bgt ni

  11. 11 Andyt August 26, 2008 at 6:34 am

    mas jallu,
    Saya nggak memahami sepeda merek RECORD, bahkan belum pernah menemukannya. Kata Kuner, ada begitu banyak merek sepeda impor dari Eropa yang membanjiri pasaran Indonesia. Sampai tahun 1935 sekitar 22.000 unit sepeda dari total 40,000 produksi Belanda masuk ke Indonesia. Tak hanya merek-merek yang terkenal, namun juga yang tidak terkenal. Produsen sepeda di Belanda saat itu bagai home industri misalnya kayak kerajinan kulit di Cibaduyut atau Tanggulangin, genting Soka di Kebumen, peuyeum di Bandung, kerupuk kuku macan dari Samarinda..dll. Oleh karenanya banyak merek-merek yang asing menurut orang sekarang. Kalau anda perhatikan diskusi mereka di Oudefiets, seringkali para pakar mereka juga kesulitan mengidentifikasi merek, tahun, bahkan dari kota mana di Belanda. Mereka yang buat aja bingung, apalagi orang Indonesia yang hanya makai? Belum lagi jika sepeda itu ternyata dirakit di sini setelah didatangkan hanya pipa dan sock-nya, kayak produk Madjid Asnoen Soerabaja(1940-1950). Belum lagi kalau sepeda itu rekayasa, kayak fenomena HIMA Polisi yang disulap jadi Simplex. Hanya ahli yang bisa mengidentifikasinya. Jangankan awam, blantik saja kadang nggak tahu kalau itu bukan Simplex. Jadi kali ini sorry kalau nggak bisa manjawabnya

  12. 12 Andyt August 26, 2008 at 6:41 am

    untuk Setiawan,

    Kayaknya sepedamu bukan Fongers, sebab nomer serinya nggak seperti pakem Fongers. Kalau hanya sekedar pelek dan slebor saja indikatornya itu sangat lemah, sebab semua sepeda ukuran ban 28 bisa dipasangi pelek dan slebor Fongers. Karena ban, pelek, setang, slebor, piringan, rotel, rem, torpedo, garpu, standar, boncengan, kones setir, dan lain-lain ukurannya standar jadi bisa dimasuk-masukkan ke frame apa saja, bahkan produk Phoenix Cina baru sekalipun!

    Untuk lebih jelasnya lagi silakan dikirim fotonya ke alamat email; andrian@peter.petra.ac.id.

  13. 13 adrea August 29, 2008 at 11:12 am

    mas andyt…saya baru dapat fongers BB 55 no serinya 2501-71 tp remnya torpedo velomos,dan stang udh gak asli.kata orang2 seri BB itu paling berkelas di jamannya dan banyak yg cari..apa betul? klo ngeliat dari bentuk framenya beda dari sepeda2 kebanyakan, antara sambunganitu pake baut.itu asli atau akal2lan.mohon pencerahan(kemana klo saya mau kirim visual sepedanya?) tks (posisi saya di banjarmasin kalimantan selatan)

  14. 14 Andyt September 1, 2008 at 7:25 am

    sodara adrea,
    silakan kirimkan visual sepedamu ke andrian@peter.petra.ac.id
    nanti saya akan terawang. Saya tunggu ya

  15. 15 meet. September 1, 2008 at 2:17 pm

    mas andyt,
    sebenarnya Simplex itu ada lampu& dinamo bawaannya gak sih?
    kok saya ndak pernah liat ya?
    di brosur2 Simplek dahulu kala juga ndak pernah di tampilkan simplex yang berlampu dan berdinamo… tolong pencerahannya di rangga.jallu@yahoo.com

    trims mas…

  16. 16 sonny jozzz September 2, 2008 at 6:50 am

    mas andyt kalo ada yg bosen jangan lupa lempar ke pondok gede ya huheheh aku tunggu lemparan nya ….jangan ke bandung aja hahahahaha (mengharap) << asal njeplak loh mas kekekekek

  17. 17 Aberar TOC September 2, 2008 at 7:36 am

    Mas Andyt, seorg tmn ingin melepas simplexnya pd sy dgn mahar 4,25 jt rph sdgkan sy pemula dlm peronthelan, bgm klo foto2nya dkrm k email mas Andyt biar dtanggapi baik teknis maupun harga,trims Aberar TOC email : aberara@ymail.com

  18. 18 hardi September 16, 2008 at 6:54 am

    menjawab pertnyaan pak jalu…kalau tidak salah merk record dari jerman, sedangkan rekor dari england….(maap kalau terbalik),saya pernah melihat sekali, bahkan dulu pak har (kediri) mempunya emblem merk nya…

    salam ontel

  19. 20 republik March 3, 2010 at 4:01 pm

    mantabs…banget dah pokoknya.

  20. 21 hudy April 16, 2010 at 3:05 pm

    memang sepeda yang keren dan unik lagi,poko’e mantep banget deh, terus kita jayakan sepeda tempoe doloe………..

  21. 22 Mellisa July 23, 2013 at 2:10 am

    Way cool! Some extremely valid points! I appreciate you writing this article and the rest
    of the site is very good.

  22. 23 pasir ris sea horizon August 2, 2013 at 5:14 am

    Very good post! We will be linking to this great article on our website.
    Keep up the great writing.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: