FONGERS HZ65 2222-81 (1922)

Sepeda jangkung ini lebih dahulu kumiliki dibandingkan Fongers BB 303-2 yang sudah ku-upload kemarin. Asal sepeda ini dari toko pak Yudi Marcopolo. Konon banyak kolektor yang memburunya, namun dasar jodoh jadilah ini salah satu sepeda kesayanganku. Awalnya saya menyangsikan spakbor depan tanpa potongan sebagaimana gambar Fongers produksi 1922 di buku katalog kiriman Herbert Kuner. Namun ternyata diralat olehnya bahwa foto sepeda Fongers di buku itu buatan tahun 1918 bukan 1922. Spakbor yang utuh menandai produksi Fongers seri awal tahun 1922. Diterangkan oleh Jos Rietveld, sang ahli Fongers dunia, bahwa Fongers 2222-81 ini menjadi sepeda ke 81 yang diproduksi di tahun 1922, maka jelas sekali spakbor sudah nggak model potongan lagi. Saya tetap pengin memotong slebor itu, namun ditentang oleh profesor Andre Koopmans. Dibilangnya, jangan latah seperti orang Belanda yang suka memanipulasi sepeda agar tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Dikatakannya lagi, orang yang sejatinya tahu tentang Fongers akan tertawa jikalau ada sepeda produksi tahun 1922 namun spakbornya dipotong. Saya ngalah. Lagian pak Yudi juga bilang kalau sepeda ini sejak dulu kondisinya seperti ini. Kata petinggi PODJOK itu, sepeda ini dulu punya kerabat kraton. Pemiliknya nggak peduli dengan kondisi sepedanya, karena sudah tiga tahun sepeda ini dibiarkan tergeletak di tritisan rumah, kena panas, hujan, bahkan gempa! Ketika proses tawar-menawar sepeda ini, pemilik yang merupakan generasi ketiga si pembeli pertama (ketika baru dulu) juga nggak peduli seolah nggak berniat menjual. Angkuh sekali kesannya. Maklumlah tipikal priyayi tradisional. Karena keuletan dan sikap pantang menyerah pak Yudi maka sepeda ini berhasil diboyong ke ruang pamer Marcopolo.

Saya kesengsem ketika melihat sepeda ini pertama kali di toko Marcopolo. Berkali kucoba menaiki keliling jalan Sosrowijayan. Sangat enak, empuk dan lewat pantulan kaca etalase kulirik diriku yang sedang mengayuh ini tampak tinggi sekali kayak Belanda aja. Isteriku yang kuajak langsung memberi dukungan untuk segera memboyong sepeda ini. Proses itu secara nggak langsung disaksikan oleh mas Aris dan genk PASTOP-nya, yang gresek boncengan Pathfinder-nya di toko itu. Udah deh…. berita Andyt melamar Fongers tinggi pak Yudi langsung nyebar. Beberapa menit kemudian humas KOBA -mas Laexs- juga menelepon memberikan ucapan selamat atas transaksi itu.

 

Ban hitam-kuning kemudian kupasang menggantikan ban putih reguler merek Deli Tire yang melekat sejak dari toko Marcopolo, ceritanya begini: Karena tetap nekad tertarik pada spakbor pendek penanda Fongers lama, kayak yang nempel di sepeda Fongers BB65  koleksi Pandu, salah seorang anggota PAKKAR Rewwin yang dikayuh di reli bersamaku, maka sepulang dari reli sepeda Sidoarjo itu aku lantas berniat memotong spakbor Fongersku ini. Biasalah, seperti kata pepatah: rumput di halaman tetangga selalu tampak lebih hijau sehingga sepeda teman selalu nampak lebih indah dibanding milik sendiri. Selepas aku berguman sendiri kalau akan kupotong slebornya sesampai dirumah nanti, seketika itu juga terdengar bunyi “DOOR..!!” cukup keras. Alamak..banku ternyata gembos. Terkosek-kosek aku menjaga keseimbangan dan untungnya nggak jatuh. Ketika dibawah, kaget aku ternyata gembos dua-duanya sekaligus. Kompak banget, dan aneh pikirku. Kalau hanya satu ban belakang aku maklum, namun ini ban depan juga. Bingung aku karena tiba-tiba harus menuntun sepeda, mana rumah masih 5 km lagi jauhnya. Di pinggir jalan aku menunggu mobil pick-up atau Angguna (mobil moda angkut barang dan penumpang sekaligus khas Surabaya) yang biasanya lalu-lalang, ternyata tak ada. Aku coba telepon mobil pick-up langgananku kalau aku membawa sepeda, ternyata tak ada semua, padahal 3 alternatif tempat persewaan. Gile bener! Setelah berjalan sekitar 15 menitan ada sebuah bengkel sepeda. Sampai di sana, pak bengkel bilang kalau ban luar-dalam depan-belakang semua pecah. Dia heran kenapa bisa seperti itu. Alhasil dia lalu menyerah tanpa mencoba. Kupikir karena bentuk garpu yang berlobang tanpa coakan, sehingga dia membayangkan kesulitan mencopot rodanya.

 

Akhirnya terpaksa aku tuntun sepeda ini sampai rumah. Capek banget, mana pulang dari reli yang dikayuh pergi-pulang. Dari rumah ke lokasi kumpul peserta reli sekitar 14km, pulang pergi dikurangi 5 km, jadi 23 km, plus reli keliling kota Sidoarjo sekitar 25-30 km, jadi sudah lebih 50 km. Masih bonus menuntun sepeda 5 km, pula. Malamnya aku berfikir ini pasti semacam ‘ungkapan protes’ dari sepeda sebagai reaksi rencanaku memotong spakbornya. Maklum sepeda mantan punya orang dalam benteng kraton pasti juga punya ‘yoni’. Wah jika aku tetap memotongnya, bisa-bisa kualat aku. Semenjak itu kubiarkan apa adanya. Bahkan ban juga tidak segera kuganti. Menunggu hari baik. Suatu ketika di hari Rebo Legi  baru aku berani  mengganti ban. Lebih dahulu ‘minta ijin’ ke sepeda itu, dan semua proses pergantian ban kulakukan sendiri. Selain kuganti bannya, Fongers ini juga diberi transfer merek dan setrip hijau khas Fongers. Juga di lain hari Rebo Legi.

 

Barangkali yang istimewa dari sepeda ini adalah konstruksi rem Fongers varian lama yang masih orisinil. Ungkapan pujian dari profesor Koopmans di balasan surat saya beberapa sat setelah aku mendapatkan sepeda ini. Ciri khas dia selalu spontan emosinya jika melihat sepeda dalam kondisi bagus. Dia juga mengharapkan barangkali aku bisa menjiplak konstruksi rem ini untuk dipasang di Fongers BB 1908 miliknya. Namun rasanya nggak PEDE deh. Menjiplak berarti harus membongkar sepeda ini lagi. Aku takut sepeda ini rusak atau berulah lagi.

 

 

Fongers ‘Ie Soort C’ HZ65 2222-81 (1922) dengan opsi persneling SA tahun 1920-an.

 

Fongers ‘Ie Soort C’ HZ65 2222-81 (1922) tampak kanan

 

Garpu depan dan Belakang, bentuknya berbeda dengan model garpu BB. Garpu depan berlobang tanpa cowakan dari bawah, sehingga cukup menyulitkan apabila akan melepas as roda. Perhatikan gambar kanan, tuas setelan rantai juga berbeda dengan BB apalagi dengan sepeda reguler.

 

Konstruksi rem depan model rem Fongers edisi lama. Konstruksi rem ini juga dipakai oleh varian BB, CCG, HH, dan H produksi sebelum tahun 1930. Gambar tengah terdapat tuas untuk mengatur setelan tekanan rem jika setang akan dinaikkan atau diturunkan.

 

Nomer seri dan konstruksi kawat jalur rem. Perhatikan bentuk konstruksi rem belakang. Pada gambar tengah terdapat tuas pengatur tekanan karet rem pada pelek. Semua konstruksi ini masih orisinil dari aslinya. Kecuali karet rem (warna putih) berasal dari model yang lebih baru (1950).

 

Gambar atas adalah setang BB, perbedaan hanya terletak pada ujung tuas rem. Ujung varian tuas rem BB mengecil (dibawah tekukan setang) lalu membesar lagi sepanjang pegangan setir. Sementara model setang HZ (bawah) tidak terdapat gaya seperti itu. Baik ukuran, bentuk, volume pipa, panjang setang ataupun ketrikan tulisan FONGERS sama antara BB dengan HZ. Piringan dan rotel sama antara BB dengan HZ. Perhatikan kelingan di piringan. Kelingan itu menggunakan baut dibagian dalam. Konstruksi yang ruwet, sebanding dengan harganya yang lebih mahal dibanding sepeda lain pada umumnya di jamannya.

 

 

Foto & Sepeda : Andyt Andrian

About these ads

42 Responses to “FONGERS HZ65 2222-81 (1922)”


  1. 1 Andyt September 19, 2008 at 5:15 am

    Rekan-rekan tersayang,
    Ini menjadi sepeda kedua dari The Fongers Family. Edisi terakhir adalah Grand Sport 1952. Mungkin minggu depan dilaunch. Selamat mengamati. Semoga menjadi pencerahan dan menambah wawasan kita bersama.

  2. 3 Niko September 20, 2008 at 6:19 pm

    Saya kira agak sulit membandingkan Fongers BB dan HZ pada tahun yang berbeda untuk mencari perbedaannya.
    -Seperti ujung garpu belakang, Fongers BB 1922 punya temanku garpu belakangnya sama persis dengan HZ 1922 Mas Andyt. Baru pertengahan 1920-an ujung gerpu belakang BB seperti BB Mas Andyt.
    -Perbadaan yang paling utama Fongers BB dengan seri lain hanya pada
    ujung garpu depan. Fongers BB ujung garpunya membulat seperti ketika jari telunjuk dan jempol dibuat melingkar terbuka. Hal ini tidak akan dijumpai pada Fongers CCG,HZ,HF,HH,Ned.H,Gron.H,Holl.H dan H(sepeda laki).
    -Untuk stang,Fongers BB,CCG,HZ,HH untuk sampai dengan tahun 1920-an umumnya stang tidak terlalu banyak perbedaan. Bahkan ditahun segitu ada CCG dan HZ yang stanynya sama persis dengan BB. Namun umumnya stang BB sedikit lebih mendongklok tinggi. Memasuki tahun 1930-an stang Fongers BB,CCG,HZ baut dan kotak dibawah stang sudah mulai agak maju kedepan.
    -Untuk supitan bawah sadel(tempat baut), Fongers BB sampai dengan awal 1920-an berbentuk segitiga(bila dilihat dari belakang), setelah itu bentuk biasa segi empat. Hal ini juga ditemui pada beberapa CCG. Namun hal ini tidak ditemui pada HZ dan lainnya.

  3. 4 Niko September 20, 2008 at 6:34 pm

    saran..,tu Fongers klo pake sadel Hygia pasti lebih mantab.

  4. 5 Niko September 21, 2008 at 1:05 am

    tambahan:
    -Untuk stang umumnya Fongers BB lebih lebar dan sedikit lebih tinggi dibanding seri lain. Untuk stang Fongers BB mendekati tahun akhir rem karet(1934),baut bawah stang tidak lagi dapat terlihat oleh pengendara sepeda saat mengendarai sepeda. Posisi baut bawah stang sudah pindah kedepan stang.
    -Fongers BB terakhir menggunakan rem karet(1934) dan pada tahun yang sama sudah terdapat Fongers BB dengan tromol dan tromol persneling.
    -Untuk spakbor depan,saya juga tidak tahu pastinya kapan terakhir Fongers memakai spakbor separo. Namun divideo perakitan Fongers tahun 1923 disana terlihat pada tahun tersebut Fongers masih memakai spakbor depan separo.

    http://www.rijwiel.net/fongers_1923.mpg

  5. 6 Andyt September 22, 2008 at 8:07 am

    Kayaknya kamu paham banget tentang Fongers ya? kirimkan donk foto koleksimu biar jadi pencerahan? Terus terang saya juga kadang tidak yakin dengan fenomena Fongers yang katanya ‘paling tertib’ filingnya, namun kenyataannya masih juga membingungkan. Atau jangan-jangan antara Fongers Belanda dengan Fongers yang diedarkan di sini, berbeda. Kayak film tentang Fongers itu, pak Koopmans juga menyangsikan kalau itu tentang produksi Fongers tahun 1923. filmnya memang direlease tahun 1923, namun belum tentu proses produksi yang dishoot adalah kejadian pembuatan di tahun 1923. Itu film jadi bukti pertanyaan saya padanya setelah buku Fongers The Mannumer 1870-1970 dari Herbert Kuner dalam mencari pembuktian tentang spakboar yang utuh atau separo.
    Namun saya nggak peduli sekarang apakah mau potongan atau nggak potongan asli spakbor yang sebenarnya dulu, yang penting saya dapatnya seperti itu, enak dipandang dan enak dikayuh. Saya sangat bersyukur mendapatkan rejeki sepeda seperti itu, sebab banyak yang kurang beruntung, apalagi di saat sulit seperti sekarang ini. :P

  6. 7 Andyt September 22, 2008 at 8:14 am

    Jangankan sadel Hygia, sadel apapun kalau itu optional Fongers akan saya usahakan. Sayangnya sadel Hygia sangat langka dan maha mahal. Seorang blantik nawarkan pada saya beberapa tahun lalu untuk sepedaku HZ65 1918, seharga Rp. 2.500.000. Barangnya nggak begitu prima, pecah dibagian tepinya.

    Sadel yang saya pasang di HZ 1922 di atas adalah sadel punya Fongers seri S (1951). Itung-itung masih bawaannya Fongers, daripada opsinya Phoenix, wakakakaka….

  7. 8 Niko September 22, 2008 at 3:36 pm

    nantiku kirimkan sebagian foto-foto koleksiku(cuma koleksi foto sebab sepedanya belum punya, harap maklum anak kos masalah dana,he..)

    Sepeda yang penting enak dipandang dan enak dikayauh, dan bagiku yang paling penting kita memiliki pengetahuan tentang sepeda itu.

    Fongers di Belanda dan disini sama saja kok,sama produksinya, semuanya dari Belanda. cuma kita aja yang kurang memahami detail-detail varian Fongers sangking banyaknya.
    Menurutku orang-orang Belanda disana, mereka menang dalam
    dokumentasi baik berupa foto-foto masa lalu maupun brosur-brosur penjualan karena mereka memang produsennya. Namun menurutku untuk koleksi sepedanya masih banyak disini, karena disini merupakan negeri kedua mereka masa lalu dengan potensial
    penjualan yang sangat besar kerena jumlah penduduk kita yang sangat banyak.
    contohnya: Fongers BB dengan REM BOTOL, menurut pengakuan Koopmans dan Jos Rietveld, di Belanda hanya ada satu sepeda yakni punya Jos seorang. Saya kira di Indonesia ada jauh lebih banyak dari di Belanda.

    Untuk masalah spakbor, saya juga masih belum jelas pastinya. Namun salah satu koleksi Jos Rietveld
    Fongers HZ-60 1924 terlihat manggunakan spakbor depan separo.

  8. 9 Andyt September 23, 2008 at 1:26 am

    Koleksi Jos yang kau sebut itu yang dipakai oleh pak Koopmans sebagai contoh kelatahan orang Belanda, yakni memotong spakboar separo agar nampak lebih tua dari aslinya. Secara visual spakbor separo memang nampak klasik dan menjadikan tampilan sepeda lebih kuno.Makanya saya pernah juga terobsesi.

  9. 10 Niko September 23, 2008 at 11:21 pm

    Bagi yang sering mengamati berbagai macam tingkatan kelas sepeda Fongers, maka akan menemukan keunikan merk ini yang tidak ditemukan dimerk sepeda lain.
    Fongers dari mulai sebelum 1905 sudah membuat tingkatan kelas sepeda yang sangat banyak. Bahkan dari tiap kelas mempunyai banyak varian nama.
    Merk ini sepedanya paling banyak perubahannya dari waktu kewaktu, walaupun terkadang hanya perubahan yang sangat kecil di
    frame yang tidak menunjukan perubahan fungsional sama sekali.
    Setiap tingkatan kelas mempunyai perbedaan. Bahkan terkadang tingkatan kelas yang sama, semisal sama-sama Fongers BB diwaktu produksi yang agak sedikit berbeda,maka sudah bisa dilihat perbedaannya, walaupun hanya perubahan yang sangat kecil. yang benar-benar aneh terkadang dalam tingkatan kelas yang sama dan dalam tahun produksi yang sama pula, Fongers juga membuat perbedaan.
    Terkadang juga dapat dilihat, misal bentuk kom-koman pengikat stang.
    Bentuk awal 1920-an diameter tidak terlalu lebar dan terdapat cenilan kecil yang menghadap kepengendara. pertengahan 1920-an sudah berubah lebih lebar dan tanpa cenilan. namun diakhir 1920-awal 1930 bentuk kom-koman kembali mepunyai cenilan.
    Sungguh sangat mengasikkan mengamati berbagai macam perbedaan Fongers.

  10. 11 Andyt September 24, 2008 at 2:22 am

    Walau tampaknya banyak beredar di Indonesia, namun Fongers yang kondisinya masih layak jalan cukup sedikit, terlebih lagi yang masih orisinil. Di perkumpulan sepeda Surabaya dan Sidoarjo misalnya, Fongers lama yang nampak bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan seri baru (setelah tahun 1950-an) dan PFG. Beberapa varian kuno yang nampak sudah banyak diganti/diubah komponennya, misalnya garpu sudah diganti dengan non-Fongers, bekas dudukan rem yang menyisakan lobang di frame dengan torpedo merek baru. Atau hanya frame dan spakbor saja, sementara garpu depan dan setang sudah gantian. Lumayan sulit ditemukan adalah piringan yang berbentuk ‘obat nyamuk’ dan rotel yang ada ketrikan Fongers. Yang maha sulit dijumpai adalah sadel Hygia.

    Mengapa Sunbeam, Burgers, dan Simplex yang relatif hampir sama tahun produksinya kondisi sepedanya nyaris ‘lebih baik’ dibanding Fongers? Ini pertanyaan penelitian yang saya gumulkan sejak lama. Ada satu pengalaman yang memilukan hati terjadi di reli HUT Paskas, November tahun 2007 lalu. Fongers CCG65 1920 punya peserta dari Asem Rowo Surabaya, mendadak patah garpu ketika membelok tajam dan roboh bersama penunggangnya. Ketika jatuh itulah frame jadi ikut bengkok. Dia jatuh persis di depan rombongan ‘onthel go BLOGG'(Laexs, Iwan ‘Hatta’, Fahmi ‘Betmen’, Heru ‘WC’, dan aku).
    Padahal sejam lalu, sepeda ini kuelus-elus di tempat start. Kesanku pada sepeda ini sangat klasik walau tidak lengkap komponennya (rem, setang, rotel sudah gantian). Kejadian itu menambah daftar panjang Fongers yang rusak. Saya tidak pernah melihatnya lagi sepeda itu. Pemiliknya saja saya nggak ingat lagi siapa. Harapan saya, semoga sepeda cantik itu nggak diterlantarkan atau malah dijual sebagai komponen yang siap dikanibal (dipotong, diambil sock atau pipa yang masih utuh). Hii..sayang sekali.

    Saya mempunyai asumsi pemikiran mungkin karena tak banyak yang punya sehingga jadi makin langka (eksklusif, mahal, onderdil sulit dan jadi mahal), sementara kalah dengan merek sepeda yang lain sebagai penanda gengsi misalnya Cycloide, Sunbeam, dan fenomena Gazelle.
    Fongers dengan keunikan opsi rem ataupun piranti fungsional terkadang juga fragile (gampang rusak). Menurut Rietveld dalam buku Fongers The Mannumer (Rietveld,et al, 2005) terdapat adanya program restorasi sepeda Fongers bagi mereka yang punya Fongers produksi sebelum tahun 1930 atau 40(saya lupa kapan tahunnya). Salah satu opsi yang direstorasi adalah rem yang fragile diganti dengan yang model baru lebih kuat. Pengecatan ulang, termasuk juga penggantian sistem penomoran seri. Fenomena ini menyebabkan Fongers dengan rem varian lama jadi susah ditemukan lagi di Belanda. Justeru di Indonesia banyak ditemukan, tentu saja kebanyakan dalam kondisi rusak. Program restorasi itu tidak memungkinkan menjangkau konsumen Indonesia karena alasan jarak dan biaya kirim.

    Menurut saya, program ini seolah menjadi bagian dari kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR)Fongers, namun disisi lain juga menunjukkan adanya ketidak sempurnaan di dalam produk Fongers yang lama. Mungkinkah itu menjadi faktor signifikan mengapa Fongers di Indonesia jarang ditemukan dalam kondisi komponen orisinil yang utuh?

  11. 12 Faj September 25, 2008 at 4:58 am

    bener-bener mlebu akal tapi gimana dengan fenomena simplex dan fongres yang di hujankan semalaman fongers sedikit karatnya, apakah bisa mewakili fenomena tetang kekuatan besi dari fongers atau simplex atau hanya karena populasi simplex yang lebih banyak sehingga masih cukup banyak ditemukan ?

  12. 13 wong-cilik September 25, 2008 at 6:46 am

    seperti biasa mas,

    mohon ijin utk di link ke sepedawordpress, barang langka nih ;)

    thanks b4

  13. 14 fath4ngontel September 25, 2008 at 7:46 am

    hOOOOO….Fongers oh fongers…
    tapi paling enak pancen numpak fongers-e dibanding merk liane sik pernah tak rasakne..
    padahal yo lagi ngrasakne fongers sik H55.Yen BB,CCG,HZ mungkin luwih uweeenak yo mas genjotane…

    [Apa gejala enak mengendarai fongers ini hanya terjadi pada q…atau para onthelis juga mengalami gejala yang serupa…??(obyektif lho ya…])

  14. 15 Andre Koopmans September 25, 2008 at 7:53 am

    What a pitty I do not understand your language, but one thing I must say; The Fongers on the pictures is realy a super-bicycle !
    The owner can be very proud to own such a nice and very old bicycle.
    Especialy with the complete original very rare (in Holland) braking-systeme this is realy the Rolls-Royce of the bicycles from Holland !

  15. 16 ,mblink September 25, 2008 at 4:38 pm

    Perbincangan yang asyik….

  16. 17 mr.t September 26, 2008 at 12:48 am

    wah keren..diibaratkan dengan rolls-royce sama mr.andre….

  17. 18 Andyt September 26, 2008 at 1:47 am

    silakan mas Heru, prinsipnya apa yang bisa menjadi pencerahan silakan dishare sebanyak mungkin dan seluas mungkin. Terimakasih mas Heru.

  18. 19 Adhie VOC Makassar September 26, 2008 at 2:30 am

    Satu lagi tambahan ilmu dan referensi yang tidak ternilai untuk anak cucu kita nanti…
    Thanks buat pakar2 ontelis yang sudi membagi ilmunya.

  19. 20 oncombogor September 26, 2008 at 6:23 am

    Nimbrung Dong,
    Kalau berdiskusi perihal Fongers sepertinya ga ada habisnya, seru banget seh, selain dapat informasi langsung dari pakarnya sebagai bahan referensi kita juga bisa lihat secara fisik bentuk yang sebenarnya. memang fongers ga ada matinya : VIVA Fongers
    OKD buat temanku Selamat menikmati fongersnya mas (Salam Kenal)

  20. 21 okidikarawang September 27, 2008 at 6:49 am

    salam mas andyt,,,memang bukan hanya simplex di idamkan mas andyt tapi sekaligus fongers yang jarang saya lihat juga bisa di miliki mas andyt,,gak tanggung ya ,,lengkap sudah antara ilmu dan kepemilikan barng nya,,memang nyata ada,,salam mas

  21. 22 jos rietveld October 4, 2008 at 7:21 pm

    Very nice bicycle! It is a Fongers 1e soort C (third class), in outfit 7b (3SA-gear, Fongers brakes). The price of this bike in 1922 was 160 Hfl. (some 70 euro in nowadays currency).
    Some little remarks:
    – the luggage carrier is not original; until 1932 gent’s bikes didn’t have a carrier
    – is the front mudguard (spatbord) original? Fongers had short front mudguards until 1925
    – does the bike have the original nickle-plating? On the photo’s it looks as if it is chromium (could have been brought on afterwards)
    – the front lamp is from 1933/6
    – you should find a Fongers Gezondheidszadel (the hard saddle with the two parts).

    I could sent a picture of the original model to the owner of this bike, if I would know his mail adress.

    NB I see my name in your comments; because I do not understand Malaysian, I can not figure out what you are writing about me; I hope it’s not too bad…

    regards,
    Jos Rietveld
    Haren (near Groningen),
    Holland

  22. 23 Andyt October 6, 2008 at 6:15 am

    Jos,

    You are really Fongers specialist! As you know this is the one of my proudly Fongers bicycle beside the 1930 BB Fongers. Please send photos from your original model of HZ Fongres on Holland purchased to me. You can send here: andrian@peter.petra.ac.id.
    By the way, I was put luggage carriers in this bicycle for daily using reason. I can carry my lovely Mac Book Pro when I going to campus. I really confused about front mudguard actually. Too many different source with different option about this one, and I decided to keep it the mudguard’s form as I get the bicycle before. Originally, the bike was plating by nickle, and after has ‘excellent care process’ that’s why still in almost perfect conditions. It seems like chromium plated. I was desperately seeking for Fongers original saddle at this time, especially in Indonesia. But I still look.

    You can see your name in Indonesian Fongers discussed, because we already look for your collections in Oudefiets, Photo Flickr, and from Herbert Kuner’s site. Doesn’t a worry about that, we always appreciate you as Fongers expert, like Andre Koopmans on Gazelle or Kuner on Magneet and Simplex cases.

    greetings from Indonesia,
    Andrian Dektisa (Andyt)

  23. 24 Andyt October 6, 2008 at 6:23 am

    untuk mas Faj,
    Apa yang saya ‘tidak sengaja’ lakukan dengan menghujankan semalaman pada batang frame Simplex dengan Fongers BB untuk perbandingan itu hal yang tidak bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya dalam ranah penelitian. Mungkin pula kadar besinya berbeda, namun kalau itu sebagai eksperimen yang dapat dipertanggung jawabkan semestinya air hujannya sama, saat hujannya harus sama, begitu pula lama terpaan hujan harus sama, dan lain-lain. Fenomena ini mohon jangan dijadikan patokan. Cukup saja diakui bahwa aku pernah menghujankan semalaman antara frame Simplex Cycloide dengan Fongers BB yang berbeda harinya. Hasilnya memang karat lebih banyak muncul di Cycloide daripada di BB. Namun sepeda yang patah itu CCG, bukan BB lho mas.

  24. 25 jos rietveld October 6, 2008 at 4:50 pm

    Hello Andyt,

    Thanks for your comment. The only thing I wonder about is the lack of original Fongers parts in Indonesia like saddles en pedals. How come??
    I will sent you soon a scan of the 1923 folder of your HZ bike.

    regards,
    Jos Rietveld
    http://www.fongers.net

  25. 26 Andyt October 7, 2008 at 10:13 am

    Hello Jos,

    I don’t know how it came. Frankly, we can assume the Fongers bicycles always imported with completely parts. But now we can see too many Fongers with less original pedals or saddle. I don’t think so where or how it can happen or disappeared. Maybe Fongers have made strong bicycle not for the parts like saddle or pedals. Or maybe the pedals and saddle was changed by the late of the owner. Actually, the original used of parts of Fongers is very expensive. In example, an old Fongers’s Hygia saddle in bad condition is more expensive than a bicycle it self in good condition. Some people approve change their old BB Fongers bicycle for any rare parts, like Fongers bell, or Fongers carbide lamp. Some collectors put that thing just for competition moment not for daily purposes. This is a unique phenomenon. Regards, Andyt

  26. 27 jos rietveld October 8, 2008 at 11:47 pm

    Andyt,

    Strange, this lack of original Fongers parts. In Holland it is not very difficult to find original spare parts. These parts were of course separately sold by the dealers. But then again, there were Fongers dealers in Indonsia also; so there must have been spare parts sold.

    Jos

  27. 28 fath4ngontel October 10, 2008 at 4:30 am

    mohon maaf
    salam ngos-ngosan sebelumnya,
    abang2 mas2 kang2 aa semua!!
    saya mau nanya kalo gear depan fongers, itu hanya model “obat nyamuk” atau ada yang pakai “YY”??
    sebab waktu saya browsing buat ngebangun fongers “H” seri paling bawah “1st e soort e” punya saya ada gambar fongers “double dekker” memakai gear “YY” mohon titik terangnya??apakah fongers memang memakai dua macam gear??
    terus “biezen ” atau garis pada seri H itu warnanya apa??dan bentuknya bagaimana??
    MOHON BANTUANYA mungkin profesor andyt yang specialis fongers n simplex bisa membantu??
    kebetulan rencana ngebangun yang 55 dan 60 semuanya seri H.

    terima kasih

    regard. Fath4ngonthel be a fongers mania

  28. 29 fath4ngontel October 10, 2008 at 4:30 am

    mohon maaf
    salam ngos-ngosan sebelumnya,
    abang2 mas2 kang2 aa semua!!
    saya mau nanya kalo gear depan fongers, itu hanya model “obat nyamuk” atau ada yang pakai “YY”??
    sebab waktu saya browsing buat ngebangun fongers “H” seri paling bawah “1st e soort e” punya saya ada gambar fongers “double dekker” memakai gear “YY” mohon titik terangnya??apakah fongers memang memakai dua macam gear??
    terus “biezen ” atau garis pada seri H itu warnanya apa??dan bentuknya bagaimana??
    MOHON BANTUANYA mungkin profesor andyt yang specialis fongers bisa membantu??
    kebetulan rencana ngebangun yang 55 dan 60 semuanya seri H.

    terima kasih

    regard. Fath4ngonthel be a fongers mania

  29. 30 Niko October 17, 2008 at 5:21 pm

    Dari pengamatanku rangka Fongers tua lebih ringan dari rangka Burgers, Cycloide, Gazelle. Material Fongers lebih susah berkarat dibanding merk lain. Namun rangkanya lebih mudah retak.
    Berbeda dengan Cyloide yang materialnya mudah berkarat,namun sangat berat dan kuat tidak mudah retak.
    Entah pakai material logam apa tu sepeda..??

  30. 31 didiandri November 13, 2008 at 1:43 am

    kok fongersku gak bisa secakep ini ya?? hiks.. :(

  31. 32 Andyt November 14, 2008 at 4:54 am

    mbak Didi,
    mungkin kurang perawatan atau opsi asesoriesnya kurang match. Percayalah, Fongers itu produk yang ekslusif dan cakep kalau semua pada opsi yang sebenarnya.

    mendingan sepedanya yang kurang cakep dibanding pemiliknya, hahaha…kalau ane mah cakepan sepedanya dibanding pemiliknya, mbak… :P

  32. 33 slamet santosa December 11, 2008 at 12:53 pm

    Salam Onthelis,
    saya beberapa kali menemukan sepeda fongers model BB, CCG, HZ di Jogja mengalami retak pada garpu belakangnya bahkan ada yang sudah diganti, ini mungkin kelemahan dari model tsbt. Karena untuk model lain seperti H , HOLL H buatan tahun yang sama tidak dijumpai hal demikian. Garpu belakang MODEL BB, CCG dibuat spesial pada ujungnya, namun kurang kuat pada sambungan pangkal garpu blkng dengan rangka utama.
    Apa perbedaan model H dngn HOLL H?
    Matur Nuwun.

  33. 34 Niko December 13, 2008 at 1:58 pm

    dibawah tahun 1920 Fongers mengeluarkan model laki
    BB, CCG, HZ, Ned.H, Gron.H, Holl.H atau HH
    namun di frame rangka ada yang tertulis HH(tidek tertulis apakah model Nederland, Groningen atau Holland) atau Ned.H, Gron.H dan Holl.H(tertulis)
    untuk rangka HH atau Ned.H, Gron.H, Holl.H
    hampir-hampir tidak ada perbedaan pada rangka,
    perbedaan cuma terletak pada
    stang, sistem rem, asesoris(sedel dkk.)
    yang paling mahal Nederland, kemudian Groningen
    dan yang paling murah model Holland.

  34. 35 slamet santosa December 15, 2008 at 4:55 am

    HOLL H apakah hanya dibuat dibawah tahun 1920an? saya dapat sepeda HOLL H dalam kondisi framenya saja, berseri 5 digit 69… saya lupa akhirannya. tidak menggunakan ‘- ‘seperti pada fongers lain sbg penanda tahun??

  35. 36 slamet santosa December 15, 2008 at 5:07 am

    Ini mas niko yg ketemu di depan kantor pos besar jogja?malam minggu podjok??

  36. 37 Niko December 15, 2008 at 3:15 pm

    ya,he..,
    ya hanya dibuat dibawah tahun 1920-an.
    Beberapa keterangan penomeran Fongers:
    -Fongers tahun 1904 kebawah-> tipe sepeda dan nomor rangka terletak di atas garpu(dibawah sadel tidak terdapat tulisan apapun, baik angka maupun huruf).
    -Fongers 1904 keatas-> tipe sepeda terletak diatas garpu, sedangkan nomor rangka terletak dibawah sadel.
    -Fongers sekitar tahun belasan awal kebawah(gak tau tahun pastinya)->
    nomor rangka menggunakan 5 digit angka tanpa tanda(-).
    -Fongers setelahnya->menggunakan nomor rangka dengan penanda 2 digit awal menunjukan angka tahun.
    -Fongers 1940 keatas->menggunakan nomor rangka diawali 1 digit huruf kemudian angka-angka.

  37. 38 Niko January 6, 2009 at 4:07 pm

    tambahan:
    -Fongers mulai tahun 1920 memakai nomor frame
    dengan 2 digit pertama menunjukan tahun pembuatan.
    Sebelumnya hanya menggunakan angka 5 digit.

  38. 39 Fongers D55 February 2, 2009 at 4:27 am

    Mas Andyt & mas Niko, saya punya sepeda fongers D55 kira kira tahun berapa pembuatannya dan untuk gearnya apakah menggunakan type “YY”

  39. 40 Niko February 2, 2009 at 2:07 pm

    nomor bawah sadel berapa?
    gear seharusnya menggunakan model “obat nyamuk” yg tua berkeling dan yang muda tidak.


  1. 1 FONGERS REBO LEGI « WIRA-WIRI NAEK SEPEDA Trackback on September 25, 2008 at 6:57 am
  2. 2 IKLAN #13 : FONGERS HZ55 2334-40 (1923) « Sepedaonthelkebo.wordpress.com Trackback on August 25, 2009 at 5:08 pm
Comments are currently closed.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: