Fongers BB60 303-2 (1930) ‘Rem Botol’

Karena banyak permintaan akan gambar atau foto Fongers BB dan konstruksi rem botolnya, maka sepeda ini diupload. Tampilan foto kali ini menunjukkan tuntasnya seluruh rangkaian proyek renovasi yang melelahkan. Keberadaan Fongers BB rem langka ini berawal dari penemuan di gudang loak, yang dimahar hanya Rp. 2,5 juta. Setelah setahun proses renovasi yang melelahkan, penuh perjuangan, emosi, peluh, tangan terluka kena gerinda, mendadak batuk akibat banyak menghirup tiner selama proses cat, konsultasi cerewet ke Koopmans dan Jos Rietveld selaku master Fongers. Harus berbagi waktu dengan ujian thesis. Maka berakhirlah setelah hampir setahun sejak ditemukannya. Proses diawali dengan merangkai kembali rem botol yang amburadul. Berbekal gambar detail resolusi tinggi kiriman profesor Koopmans, disusul proses konsultasi Jos Rietveld maka hal itu menjadi mudah. Dibantu pengelasan oleh cak Ndeh, dan pak Asmanu. Ketika ditemukan sudah cat ulang tapi amat jelek, oleh karenanya  perlu dicat ulang lagi. Semua dilakukan sendiri! Mengoplos epoxy hitam, lalu Danagloss Solid Black dengan tiner A Special Bintang dengan tiga layer campuran berbeda. Dibantu kompresor Sagola 777 dan Badger USA Airbrush Kit ukuran medium. Finishing dan setrip garis hijau khas Fongers goresan sendiri hasil berguru dari almarhum pak Andy Tanudjaja eks Bengkel Kapasan 15. Setelah itu proses merakit yang lagi-lagi juga dilakukan sendiri. Kali ini nggak ngrepoti pak Makmun, namun cukup konsultasi via telepon berkali-kali.

Transfer merk Fongers ‘Ie Soort A’ bantuan Kang Tatank, bel BB (Burberry England) yang nyaring banget mengingatkan pada lezatnya gado-gado Bandung bersamanya di hujan siang hari April 2008. Jagrak samping KOBA Jepang tetap kupasang karena mengingatkan sahabat-sahabat ontel Bunderan HI. Sadel kerangka Lepalusil original dibekleid ulang oleh cak Ali, Jombang. Untung sampeyan nggak kenal Ryan, cak! Orient ‘pakjesdrager”, ukuran 26 yang dipasang, sebab kalau ukuran 24 terlalu mepet dengan slebor. Kunci HOPMI jomplang tutup budi baik pak Yudi Marcopolo, as belakang sumbangan mas Faj. Tabung pipa rem yang gresek di gudang pak Mulyadi Loebis, Panjunan Sidoarjo. Niko membantu di lampu reflektor. Wis pokoke gotong royong! Last but not lease, pinjaman lampu lentera yang dicopot dari Simplex Cycloide Dames seri 1 punya isteriku. Katanya biar tambah ganteng difoto, sembari menunggu ditemukan lampu dan dinamo FG. Pelan-pelan sajalah nyarinya sebab barang langka. Nabung dan sabarlah dulu.

Jadilah sepeda ini berdiri dan serasa mengendarai Fongers BB baru di tahun 1930an. Soal kenyamanan, beberapa rekan PASOMO Mojokerto, PASKAS dan Sepeda Tua Lamongan malah mengatakan lebih enak dari Cycloide. Hanya saya kurang sepakat dengan mereka. Maklum tak bisa pindah kelain hati selain Simplex. Banyak rekan telah berpartisipasi pada pembangunan sepeda ini, oleh karenanya tidak berlebihan bila sepeda ini adalah hasil kolaborasi karena munculnya situs Wiwinaked. Luar biasa! Maka silakan konstruksi rem pada sepeda ini menjadi acuan jikalau ada rekan-rekan yang ingin membangun/merestorasi ulang koleksi BB rem botol yang mangkrak. Sebab pembuatan rem ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Bahkan teknisinya pak Sugeng Priyanto dedengkot PAKKAR Rewwin konon juga sudah mampu mengatasinya, karena sekarang sedang proses restorasi Fongers BB65 1923! Gile beneer. Kata komunitas Oudefietsen, paling tua Fongers BB rem botol adalah tahun 1934, itu sepeda dikoleksi Jos Rietveld. Kalau gitu tuaan yang di Indonesia, donk.

Nah, lo, siapa bilang sepeda tua Belanda langka hanya ada di negara asalnya saja.

 

Restorasi, Foto & Sepeda : Andyt Andrian

A ton of thanks especially to Jos Rietveld for a rare Fongers braking construction photoes sharring and to ‘professor’ Andre Koopmans for all suggests during a restoration project. Thanks for shore, as you said. Keep helping us!

 

Tampak  Samping . Kelihatan sekali konstruksi diamond frame era tahun 1930-an yang pendek jarak setang ke sadel, tapi ukuran frame tinggi.Nyaman bagi pengendara dengan panjang kaki minimal 65 cm.

Konstruksi transmisi dan kawat rem botol yang konon gampang rusak.

Konstruksi dari depan.Cincin di leher setang sebagai ‘brake pad’ agar setang besi                 tidak mudah aus terkena roda baja kawat rem.

Konstruksi rem belakang. Gambar kanan nampak tuas untuk memutar setelan jarak karet rem dengan pelek.

Ciri khas supitan Fongers BB (gambar kiri) berfungsi untuk setelan tegangan rantai. Konon komponen ini juga cukup fragile, sehingga sering dijumpai Fongers BB yang supitannya sudah gantian. Bagasi model “pakjesdrager”, dengan 4 dudukan di sisinya. Buatan sebelum 1940, kata pak Koopmans.

The one of Dutch beautifully aristocrat bicycle.

Indah dipandang enak dikayuh, nyaman dikeloni.

 

 

About these ads

97 Responses to “Fongers BB60 303-2 (1930) ‘Rem Botol’”


  1. 1 Andyt September 17, 2008 at 2:36 am

    Rekan-rekan tersayang,

    Upload Fongers BB 303-2 ini mengawali rangkaian seri Fongers yang belum muncul di situs ini. Menyusul HZ65 (1922), lalu Grand Sport (1963). Semoga bisa menjadi pencerahan dan pengetahuan tentang objek kecintaan kita. Namun apapun onthelnya, persatuan dan kedamaian harus diutamakan. Salam Onthel!

  2. 2 Dhika September 17, 2008 at 3:04 am

    waduh, jadi ndak sabar nunggu serial onthelnya…
    Bravo kang!

  3. 3 Niko September 17, 2008 at 3:57 pm

    Mas Andyt, restorasi BB-nya mantab tenan!!!
    Jangan lupa upload juga BB-65 1926 nya..,

  4. 4 Niko September 17, 2008 at 3:58 pm

    maaf seharusnya 1923

  5. 5 xk September 18, 2008 at 2:58 am

    Hebat tenan sepedanya mas…

  6. 6 yudi prasetyo September 18, 2008 at 3:47 am

    Setiap manusia punya keinginan….
    Keinginanku di dunia onthel ini ingin punya Simplex dan Fongers.
    Simplex alhamdulillah Tuhan kasih rezeki Cycloide. Mudah2an Tuhan juga
    memberi fongers yang BB.
    Untuk sementara berdo’a berusaha dan mimpi dulu ach….

  7. 7 wong-cilik September 18, 2008 at 4:38 am

    maap mas, mau nanya nih…

    kenapa disebut rem botol ya ?

    yg mirip botolnya itu yg bagian mana Sih ?

    thanks

  8. 8 wong-cilik September 18, 2008 at 4:44 am

    sampe lupa…

    top banget restorasinya… ;)

  9. 9 yudi prasetyo September 18, 2008 at 4:53 am

    Endangg….. Ngeces maneh ndelo’e

  10. 10 orang pinggiran September 18, 2008 at 4:53 am

    hemmm… pusing liat nya om…

  11. 11 Faj September 18, 2008 at 4:57 am

    MANTEP TENAN MAS, SELAMAT USAHANYA BISA JADI MOTIVASI BUAT TEMAN-TEMAN YANG LAIN

  12. 12 laexs September 18, 2008 at 5:03 am

    Aku belum sempet mencoba nih…

    Jangan lupa yang HZ65 nya mas di munculkan..ga sabar liatnya.

  13. 13 oncombogor September 18, 2008 at 5:10 am

    Fongers Memang Hebat Yach, Sepeda belanda ini memang asyiik bila di genjot

  14. 14 mr.t September 18, 2008 at 5:36 am

    lebih asik lagi kalau dikirim kemarih…bwahahah..tp jangan deh percuma cuma buat pajangan doang….dan dikasih tulisan wilujeng sumping…wakakakakak…..tob dah kayak baru keluar dari dealer sepeda nih….ajib..ajib…., kang heru yang disebut botol barangkali (batu dong..hahah) dudukan remnya….

  15. 15 'mblink September 18, 2008 at 5:49 am

    seperti ini ni yang patut di tiru. foto detail dengan cerita yang lengkap pula. salut mas ….
    dadi pingin dolan nang omah sampean cak.

  16. 16 -bejo- September 18, 2008 at 6:06 am

    ck..ckk.ckkk elok tenan mas sepedane..mantafs…ga bisa komen mas,..pokoke mak nyuss!! btw mas dishare dunk cara bikin striping yang ijo itu biar ane tau cara bikinnya…suwun..
    -bejo-

  17. 17 diar PSH Garut September 18, 2008 at 6:18 am

    Top..markotop,gus..marbagus,..ren..markeren….Mas Andyt emang top dah.ngerestorasinya.

  18. 18 M.LOEBIS September 18, 2008 at 7:36 am

    mas andyt di gudang sekarang hanya tinggal kenangan

  19. 19 Andyt September 18, 2008 at 8:07 am

    mas Heru dan rekan-rekan,

    Perhatikan garpu depan (kiri-kanan) dan garpu belakang (kiri-kanan), ada bentuk seperti ‘jalu’ yang mencuat/muncul dari konstruksi kaki-kaki garpu tersebut. Ini kalau diamati seperti bentuk botol minyak kayuputih yang berukuran kecil di jaman lalu.

    Rem botol itu hanya istilah yang digunakan oleh orang Surabaya ketika melihat bentuk bumbung tuas rem tersebut. Benda yang menempel pada garpu depan dan belakang seperti botol ini bisa menyatu dengan kaki garpu karena di tengah-tengahnya terdapat as sebagai tulangannya. As ini menembus kaki garpu (ada dudukannya) sehingga kokoh. Asnya berbentuk bulat yang diselubungi kawat pegas sehingga ketika ‘botol’ itu diputar maka akan muncul efek membalik (pegas). Ketika tuas setang rem ditekan, maka muncul gaya dorong keatas yang ikut memutar pegas sehingga muncul gaya berlawanan (menekan kebawah). Oleh karenanya akan menimbulkan gaya membalik ketika tuas rem dilepaskan. Istilah rem botol dari Belandanya saya malah belum menemukan.

    Mungkin mas Niko bisa membantu dengan mencantumkan alamat situs di album foto Fongers BB65 Jos tentang rem ini ketika diuraikan. Saya nyari nggak ketemu.

  20. 20 Andyt September 18, 2008 at 8:53 am

    mas Bejo,

    cara membuat strip gampang-gampang susah. Modalnya cuman 3, PERTAMA ada trekpen (dari jangka merek BOFA paling bagus, karena penampang trekpen lebih lebar dari yang merek lain), lalu KEDUA ketrampilan tangan (tangan jangan mudah gemetar) KETIGA, kuat nahan nafas paling nggak selama ketika ujung trekpen bertinta menyentuh bagian sepeda yang mau disetrip, sampai seluruh cat di trekpen habis saat penyetripan. Habis itu silakan bernafas lagi. paling lama juga semenit doank.

    Siapkan dulu bagian yang mau disetrip dengan baik, perhatikan batas ukuran setripan (misalnya 3,6 cm dari sock bawah, 3,6cm dari sock atas) lalu tandai batas itu dengan lakban kertas, sehingga ketika ujung trekpen bertinta masuk ke lakban, batas jejaknya di bagian sepeda akan bagus dan rapih.Sesuaikan dengan pakem aturan setrip sesuai dengan merek sepeda, misalnya hijau cenderung tosca untuk Fongers, Emas untuk Simplex dan Gazelle, Emas dan biru benhur untuk Humber, Raleigh, Rudge atau Philips edisi lama. Tandai dengan lakban kertas semua bagian sepeda yang akan disetrip (frame, spakbor, garpu, ketengkas metal)

    Cairkan warna dan atur kesesuaian dengan tone warna yang diinginkan, misalnya hijau Fongers itu cenderung ke tosca, bukan ke hijau PKB atau hijau Angkatan Darat, apalagi hijau kemasan Sampoerna Hijau. Gunakan cat warna kuning, putih dan hitam untuk pencampur dan menciptakan tone tersebut.Pakailah tiner A Special untuk hasil yang terbaik. Teteskan cat ke trekpen lalu digoreskan di kertas koran untuk mengetes tone, setel juga bukaan trekpen agar tercipta ukuran yang sesuai (untuk sepeda biasanya 0,5-0,8).
    Tahan nafas dan goreskan. Gunakan jari tengah yang ditekankan mengikuti alur pipa frame, atau pinggir garpu dan pinggir spakbor, ketika jari telunjuk dan jempol memegang trekpen dan menggores tinda ke bagian sepeda. Perlu latihan yang lama.

    Jika anda bukan dari sekolah desain/lukis pasti proses ini akan cukup menimbulkan kesulitan. Saya yang alumni Desain Komunikasi Visual ISI Jogja saja, perlu latihan puluhan bahkan ratusan kali. Dulu nggak PEDE, namun setelah pak Andy meninggal mau nggak mau nggak ada lagi yang bisa dimintai bantuan, jadi bisa karena terpaksa.

    Jika garis setrip jelek, atau salah, atau terjadi cat yang mblobor, segeralah usap dengan kain bersih kering sebelum cat sterip mengering. Jaga tingkat kecairan cat setrip dengan sesekali menambahkan dengan tiner, namun harap diingat jangan sampai warna berubah. Penyetripan pada frame adalah hal yang paling mudah diantara semua proses penyetripan sepeda, sebab dapat menggunakan alat bantu penggaris. Paling sulit adalah garpu dan spakboar.

    Kapan-kapan saya upload gambar dan caranya, kalau libur Lebaran nanti ada waktu untuk memotret proses itu. Tunggu saja kawan.

  21. 21 Ivanov September 18, 2008 at 9:31 am

    Om Andyt…
    Ngak bisa berkata-kata aku.. ngelihat Fongers ini…
    Muantab tenaannt… sampee ngiluu aku…

  22. 22 Andre Koopmans September 18, 2008 at 10:07 am

    I think this is a very nice Fongers, the braking-systeme is also very special.
    A same type of Fongers is found here in Holland by Jos Rietveld, these bicycles are the best one could buy in those years.
    A bicycle to be proud of !

  23. 23 kurnia September 18, 2008 at 11:18 am

    Proses restorasi yang melelahkan tapi menghasilkan suatu bentuk sepeda (fonger) yang clasic dan antik. “It’s very nice bicycle”

    Kagum atas dukungan dan gotong royong yang dilakukan komunitas ONTHEL.

  24. 24 JANA September 18, 2008 at 12:04 pm

    cantik…..
    mas andyt, posisi dudukan tuas rem ada sisi bawah stang yah…

  25. 25 marcopolo September 18, 2008 at 12:11 pm

    Pak Andyt ,
    Wah ……tok cer tenan ini , gak tanggung tanggung mbangun nya Hebat .
    Iya ..ya ….setahun , lama juga , tapi dari hasilnya ….gak ngecewain .
    Saya hari ini barusan lepas kuncinya pak , merk FG barangnya bagus , baru lihat hari ini kalo barangnya pak Andyt di posting !
    Yah ….gak apa -apa akhirnya yang di tunggu-tunggu para pencinta merk Fonger muncul juga dari pertapaannya , JEMPOL DUA buat anda .
    salam

  26. 26 Okidikarawang September 18, 2008 at 12:22 pm

    Lieur,jangar mastaka aing,pami ngabandungan sapedah anu karieu patut, lamun tea mah hayang ngabogaan,tapi te kasampean sieun akh,.sieun GELO.!!SIEUN GELO.

  27. 27 qieqie_O.C.S September 18, 2008 at 1:08 pm

    mas saya sampe melongo liat foto BB nya..
    ini baru restorasi namanya, bener2 kagum saya d buatnya..
    salut buat mas andyt.. dua jempol pokoknya.
    kapan ya takdir saya bisa punya BB juga..

  28. 28 pokijan September 18, 2008 at 2:08 pm

    wah hebat.. selamat, bisa komplit..
    btw saya juga dalam tahap merestorasi fongers BB ku ukuran 24, aku lupa nomer seri lengkapnya, dengan formasi rem sama (botol) masih berfungsi dengan lumayan baik (pakem je), walau ada las-lasan sana sini. Soal tunggangan memang ternyata nyaman. Hanya tinggal satu yang kurang dan masih mengganjal di hati, yaitu stangnya.

    Untuk mas andyt, mungkin anda punya “persediaan” stang BB atau info untuk menemukan stang fongers BB ga? atau mungkin dari seri lain yang stangnya masih setipe, supaya saya bisa tidur tenang dan ga penasarang kalau sudah menemukannya :-)

    Oya, untuk BB rem botol yang paling muda / edisi terakhir tahun berapa ya?

    Salam juga untuk pak MARCOPOLO

    THANX !!!

  29. 30 Niko September 18, 2008 at 5:14 pm

    coba lihat di:

    1934 Fongers BB 65

  30. 31 andri September 19, 2008 at 12:37 am

    Wahhhhh…..wahhhhh….bagusssss….bagusssss
    senang sekali bisa liatnya….apalagi kalo dikasi hehehehe….
    Mas Yudi Prasetyo…tengkyu banget gazellenya….mantap dan trik untuk sampe ke mari hahahaha…..

  31. 32 Bakri/POL_Lampung September 19, 2008 at 1:10 am

    Mantap Restorasinya Mas Andyt, saya nyari epoxy hitam ke toko Cat Mobil dibilang tidak ada mas, bahkan diketawain mereka bilang warna itu tidak ada, wah saya salut mas Andyt bisa dapat atau memang di oplos mas buatnya. suwun mau coba restorasi lagi ach….

  32. 33 Andyt September 19, 2008 at 1:54 am

    kang JANA,
    dudukan tuas setang rem memang ada di bawah setang. Ada perbedaan antara tuas rem BB dengan HZ. Naanti sore saya akan upload HZ65 (1922) agar bisa terlihat jelas/nampak bedanya.

    pak Yudi,
    Berarti kuncinya belum jodoh pak. Saya percaya suatu saat akan ketemu juga jodoh buat BB saya.

    mas Bakri/POL_Lampung.
    Meni Epoxy warna hitam banyak sekali pak di toko cat di Surabaya.Saya beli di toko cat jalan Kertajaya, dekat sekali dengan viaduck (Gubeng). Mungkin karena kota besar kali ya? Itu meni ketika masih basah warnanya hitam glosi, namun ketika kering jadinya doff.

  33. 34 -bejo- September 19, 2008 at 2:22 am

    makasih mas Andyt atas pencerahannya…tak tunggu lho foto2 proses & cara bikin stripnya setelah lebaran yach..he..he..

  34. 35 iyung September 19, 2008 at 2:33 am

    wah jadi inget fonger H60 tahun 1923 yang gagal kubeli cuma 225ribu…..,oh Fongers….selalu bikin Ngilers….

  35. 36 Ichwan September 19, 2008 at 2:47 am

    Mantap banget mas Andyt, memang klo restorasi sepeda jangan tanggung2, kondisi harus balik seperti keluar dari toko hehe :)
    Numpang mengagumi dari jauh aja mas, mandangin foto fongers yang cantik :D
    Selamat mas Andyt!!!

  36. 37 harry September 20, 2008 at 4:10 am

    Tak terbayang kepuasan yang kudapat…
    Jika bisa kurangkai sepeda seperti ini…
    Suatu saat aku yakin bisa…
    Kan kurenovasi merk lainnya…
    Salut Pak Andyt…

  37. 38 Niko September 20, 2008 at 5:38 pm

    Mas Andyt, gimana cara restorasi tu stang bb yang tadinya tengahnya berbaut jadi tidak berbaut?

  38. 39 fath September 22, 2008 at 4:13 am

    Very nice mas…wheleh-wheleh…
    itu trodong rantai dibikinken lagi ya mas?pakai bahan kulit..

  39. 40 Andyt September 22, 2008 at 7:52 am

    cara restorasi setang mudah sekali, ada teman yang punya tanpa baut punya BB dan minta ditukar dengan beberapa lembar gambar Soekarno-Hatta. Gampang banget deh.

  40. 41 Andyt September 23, 2008 at 1:38 am

    untuk mas Pokijan,

    Varian rem botol BB paling muda tahun belum diketemukan bukti otentik arsipnya, namun kalau dari sisi temuan sepeda sementara teridentifikasi dari BB65 tahun 1934 koleksi Jos. Itu juga dibilang satu-satunya yang ditemukan di Belanda. Kalau di Surabaya ada dua BB rem botol (yang bisa dioperasikan) yakni punya Sandy dan satu lagi yang gambarnya ada di atas ini. Nggak ketahuan yang punya Sandy tahun berapa produksinya. Maklum disimpan terus dan jarang dikeluarkan. Hanya orang tertentu yang boleh mendekati dan memegangnya. Saya tahunya karena sempat memegang ketika diservis di bengkel alm pak Andy, 4 tahun lalu. Waktu itu orientasi saya hanya dan hanya Cycloide (walau sampai sekarang masih juga):P. Setelah itu nggak pernah lagi nampak BB itu.

    Inilah salah satu fenomena unik di Surabaya, di mana cukup banyak orang mempunyai koleksi sepeda hebat-hebat namun tidak mau diekspose apalagi difoto untuk publik. Sayang sekali memang.

  41. 42 Niko September 23, 2008 at 6:49 am

    Memang dengan uang semua bisa menjadi lebih gampang,he..,

  42. 43 Andyt September 24, 2008 at 2:30 am

    lebih gampang lagi cuman omong, mas

  43. 44 winahyu September 24, 2008 at 3:48 am

    iyo ngomong mung geri njeplake cangkem tok ra kudu nduwe duwit yo iso Sepedae Fongrese uaapik tenen ijol honda supra x 125 oleh ra dab.? telpun 0813256417790

  44. 45 Faj September 24, 2008 at 2:29 pm

    walah okeh tawaran tu ?

  45. 46 Faj September 25, 2008 at 4:30 am

    sesama pemilik fongers dengan kadar yang berbeda dilarang mengeluarkan anggota badan

  46. 47 Andyt September 26, 2008 at 3:43 am

    maaf mas/mbak Winahyu,
    ini Fongers nggak akan saya jual, juga ditukar apapun. Obsesi saya mau mendirikan galeri sepeda. Lagi nabung buat beli bangunannya dulu.

  47. 48 Ali September 26, 2008 at 12:17 pm

    Mas Andrian,

    Tolong konstruksi rem botolnya di kirim ke email saya dong di utmpoci@yahoo.co.id soalnya saya lagi merestorasi sepeda fongers saya seri BB-60.

    Wasalam
    Ali

  48. 49 Pakde Agus September 29, 2008 at 7:22 am

    Salut Mas Andyt, saya sbg teman baru merasa senang punya panutan yang menurut saya patut di ikuti dan di petik ilmu dan pengalamannya. apa lagi saya sdh melihat langsung bentuk sepeda hasil restorasi Mas Andyt, ttp setelah membaca step by step proses nya saya semakin salut dan angkat topi. Salam dan Sukses ya Mas……( D Kencana )

  49. 50 jos rietveld October 4, 2008 at 7:45 pm

    Hello Andyt,

    Beautiful bike, and a well restaurated! This is a very rare model, also in Holland. The BB-model (1e soort A, first class) was made in very small numbers after 1925 because of the fall of the prices. A BB was twice as expensive as a cheap model of Fongers (for example a model HD, fourth class) and up to four times as expensive as cheaper brands. The low frame number (second bike in the third serie of 100 made in 1930) underlines the rareness.
    Few small remarks:
    - Fongers did not assemble luggage carriers until 1932
    - you should find an original Fongers saddle
    - what is the purpose of the small black band on the steer pen?
    - in Holland oil lamps were no longer in use in 1930; I do not know how this was in Nederlands-Indie by then, but a carbide lamp or electric light would be more proper perhaps
    - are the pedals original Fongers?

    regards,

    Jos Rietveld

  50. 51 Andyt October 6, 2008 at 5:45 am

    Hallo Jos,

    Thanks for your comment for my 1930 BB Fongers. Acctually, I was restoration this one according bicycle’s condition and for daily using in Indonesia, that’s why I put luggage carriers in this bicycle. I was desperately seeking for Fongers original saddle at this time, especially in Indonesia. But I still look. The small black band on the steer pen I put to protect this from ‘worn-out’ by steel-ball brake steer dragged. Those also made brake processed smoother because this one created exactly angle between steel-ball brake and the brake wire. Actually it was created by my self as my brake-problem solver. I don’t know about exactly for the oil-lamps times, but it seems more beautiful for me to put this on mine. The pedals are not original Fongers, It just Union brand. As I told you, Fongers’s accessories is very difficult looking in here. This is my best achievement for my 1930 Fongers restoration in a middle of difficult times in Indonesia.

  51. 52 jos rietveld October 6, 2008 at 4:53 pm

    Hello Andyt,

    Thanks fot your explanation. For daily use a carrier is much more convenient. I understand you use this bike for daily purposes? (beware!).

    regards, Jos

  52. 53 Andyt October 7, 2008 at 9:38 am

    Hello Jos,

    What is your meaning of beware? I think beware of thief or something wickedness. In here, almost rider can left their old bicycle anywhere on public parking as like as they want, but don’t even do with another vehicle like car or motorcycle. It might lose. It is an opposite situations between Holland and Indonesia. In many photos on postcard or posters about Holland, I can see Tulips and too many people who ridding bicycles, and many bicycle with big iron-chain parked in everywhere. Sometimes I always felt afraid with my Apple Mac Book Pro in baggage luggage than my 1930 Fongers BB when I waiting for green traffic light. That’s why I always tight fasten. You can see, almost of Indonesia old bicycles enthusiasms just put antique key on their bike just for stand out or any accessories reason not for part of safety from any wickedness. Nice to discusses with you, Jos.

  53. 54 jos rietveld October 7, 2008 at 5:33 pm

    Hello Andyt,

    Theft of bicycles is a major problem in Holland. Every year some 700.000 bike are stolen (on a total amount,heavy locks. Locks on bicycles before 1970 aren ‘t safe today. Owners of vintage bicycles therefore avoid to park their bike in public, especially when these bikes only have the original locks.
    I would like to visit some day Indonesia to see how you are doing.

    Jos

  54. 55 Andre Koopmans October 9, 2008 at 11:53 am

    Hallo Andrian and Jos,

    Nice to read the differences between vintage bicycles in Indonesia and Holland.
    Like Jos told, in Holland your bicycle is never save (from theft) when you park it, even with heavy locks with massif hardened chains….
    I understand from your writing Andrian, that in Indonesia you can park your oldtimer-bicycle everywhere without locking it (or with just a weak oldtimer-lock) and without the risk of the bike being stolen !?

    In Holland a nice oldtimer bicycle is relatively cheap to buy for an average Dutch man.
    In Indonesia a nice oldtimer bicycle is very expensive to buy for an average Indonesian man…. I would think that an oldtimer bicycle would be very interesting for a thief in Indonesia because it is worth a lot of money, I don’t understand that, but it is very nice you can park your bicycle without worry ofcause !

    Maybe the reason is that thiefs are punnished by cutting of the hands in Indonesia, haha.
    In Holland bicycle-theft are almost legal, when you go to the police when your bicycle is stolen, policeman have difficulties not to laugh about it….and if they catch a bicycle-thief (very rare) the thief only gets a very light punnishement…

    The reason that there is a lack of spareparts in Indonesia could be because of the bicycles in Indonesia are more used and because of the warm climate.
    Leather (sadles) and rubber (pedals) are drying out vaster in a warmer climate and were sooner worn and replaced by original parts as long as these were available, after that they were replaced by other spareparts (from Japan/china e.o.)

    I think in Holland original spareparts are also harder and harder to get, maybe Jos has a lot of original Fongers spareparts, but for instance original Gazelle-pedals; I got 7 original pedals with the Gazelle-name in it, but I am looking for them for more than 10 years !

    In Holland a lot of oldtimer-bicycles are still thrown away on the scrapyard every day, I visit a local scrapyard every now and than, and every time I see a lot of old Dutch bicycles that are dumped for scrap….
    I think pre-war-bicycles will get very rare on the streets of Holland in a few years…

    Andre

  55. 56 fath4ngontel October 10, 2008 at 4:26 am

    mohon maaf
    salam ngos-ngosan sebelumnya,
    abang2 mas2 kang2 aa semua!!
    saya mau nanya kalo gear depan fongers, itu hanya model “obat nyamuk” atau ada yang pakai “YY”??
    sebab waktu saya browsing buat ngebangun fongers “H” seri paling bawah “1st e soort e” punya saya ada gambar fongers “double dekker” memakai gear “YY” mohon titik terangnya??apakah fongers memang memakai dua macam gear??
    terus “biezen ” atau garis pada seri H itu warnanya apa??dan bentuknya bagaimana??
    MOHON BANTUANYA mungkin profesor andyt yang specialis fongers n simplex bisa membantu??
    kebetulan rencana ngebangun yang 55 dan 60 semuanya seri H.

    terima kasih

    regard. Fath4ngonthel be a fongers mania

  56. 57 Andyt October 13, 2008 at 2:44 am

    Mas Fath,

    Sejauh pengamatan saya dari berbagai brosur Fongers yang kelihatan piringannya (kebanyakan nggak kelihatan piringannya, karena tertutup ketengkas) kebanyakan menggunakan model melingkar-lingkar (orang Indonesia bilang ‘obat nyamuk’). Sedangkan model yang lain ditemukan pada seri yang lebih tua (sebelum 1925) yakni seperti obat nyamuk namun hanya dua ‘tingkat lingkaran’. kalau obat nyamuk kan tiga tingkat. Kemudian pada Fongers yang baru (setelah mereka gabung dengan PFG) maka modelnya agak beda lagi. Kayak yang ditiru oleh RRC sekarang, ada bagian yang meruncing pada komponen gambar piringannya.

    Satu-satunya yang saya lihat memakai YY adalah yang double dekker itu. Ini menimbulkan kemungkinan asumsi, yakni apakah memang double dekker menggunakan piringan bentuk YY, ataukah hanya tahun itu saja (1940), atau asumsi berikutnya, piringan itu sudah gantian dengan yang reguler. Bentuk YY kan banyak dipakai oleh merek-merek sepeda umumnya di Belanda. Hal ini juga mendukung fenomena di Belanda bahwa piringan adalah bagian sepeda yang kurang signifikan diperhatikan sebagai penanda originalitas. Ini berbeda dengan pandangan orang Indonesia tentang kualitas orisinalitas sepeda pada umumnya yang mengacu pada hal-hal tertentu yang berbeda dengan pandangan mereka di Belanda.

    Saya belum pernah membangun seri HH, maka saran saya carilah gambar tentang strip pada H. Lalu ikuti. Ngomong-omong, ketika saya melakukan striping pada BB saya malah mengacu pada seri CCG. Namun sebagaimana dilihat, tak ada komentar orang Belanda tentang hal itu. Saya menduga memang model dan warnanya sama, atau garis itu bukan hal yang signifikan bagi mereka sehingga tak perlu dikomentari.

  57. 58 fath4ngontel October 13, 2008 at 3:59 am

    terima kasih atas infonya bang andyt…..
    masukan yang sangat berharga banget……

  58. 59 wahyu October 14, 2008 at 11:57 am

    Bang andyt minta alamat emailnya donk ada yang mau sy tanyain soalnya sy baru dapat sepeda fongers yg udah kayak surganya karat,tp semua masih fungsi dg baik terutama yg paling sy sukai kunci ban belakang menggunakan sistem kombinasi kayak jam.merknya fongers tp di stangnya kok tulisan rongers ya? trus dibawah pedal ada kode cm 2773- artinya apa ya?kira2 tahun brp ya?minta emailnya ya biar sy email fotonya,terima kasih sebelumnya.emailku whu_pku@yahoo.com

  59. 61 spirito October 20, 2008 at 12:51 pm

    halo met kenal kang wahyu..yg baru dpt wahyu…selamat ya dengan pongersnya………..andai suatu saatbosen boljug tak lamare.nuwun.

  60. 62 pittuwo December 3, 2008 at 1:14 am

    Om Andyt,
    mo banyak tanya nh… :)
    1. Taunya itu BB drmn ya…? soale saya juga pernah nemu sepeda dengan ciri fisik yg sama, tapi kq kode di atas garpu depan nya CCG, bukan BB…?

    2. Boleh tau contact person temen om andyt yg punya stang tanpa baut kah..?

    3. Boleh tau contact person temen yg bisa restorasi rem botol kah…?

    4. Boleh tau contact person temen yg bisa restorasi rem jepit Simplex Cycloide tipe Lux kah…?

    Soale mo restorasi abis-abisan nh…hehe…

    Suwun ya Om Andyt…

  61. 63 Andyt December 3, 2008 at 9:17 am

    Pak David, yth

    Bagi orang awam terkadang sulit membedakan antara varian BB dengan CCG, atau HZ, HH, HF, atau H. Sebab bedanya memang sangat kecil, misalnya pada bentuk tuas rem pada setang, kemudian pada model garpu depan dan belakang, terutama diujungnya, di mana bos as roda bertemu dengan frame. Cukup sulit diceritakan tanpa gambar. Saya sedang mempersiapkan beberapa artikel lagi tentang varian Fongers yang lain (CCG, HH, HF, H, dan Grand Sport) dan Royal Sun Beam tahun 1910 untuk upload-an mendatang. Sabar saja. Sebab data gambarnya cukup sulit, apalagi yang masih menggunakan opsi orisinilnya. Dari sana nanti pak David bisa mengidentifikasi karakteristik varian/seri Fongers apakah itu BB, CCG, HZ, atau HF.

    Teman saya yang punya setang tanpa baut di mana saya memperoleh ini adalah pak Nguyen, beliau anggota senior Paskas yang sekarang membantu teman-teman yang membangun sepedanya. Alamatnya di jalan masuk seberang stasiun TVRI Surabaya. Namun ketika ketemu di Jogja Kembali Bersepeda, dia mengatakan sudah tidak lagi menemukan setang BB. Sebab saya juga mencari setang BB untuk BB65 tahun 1926 yang juga rem botol.

    Untuk restorasi rem botol saya lakukan sendiri dibantu oleh pak Asmanuali, ahli las yang sehari-harinya menerima pesanan meubel untuk diekspor ke Jepang. Dia juga anggota Pakkar, Rewwin Sidoarjo.

    Sedangkan restorasi rem kawat model U pada rem jepit di Simplex Luxe yang upload terakhir (punya pak Rendra) saya nggak ngerti di mana, namun dulu (2002) saya pernah merestorasi punya saya (yang foto Simplex itu digunakan sebagai gambar kaos oleh C-59) dengan bantuan cak Di (pak Ndeh)di kampung Kepuh Kiriman, Waru.

    Kalau mau membenahi rem Cycloide-nya, saya bisa menolong pak David. Silakan kirimkan kawat rem yang perlu diperbaiki ke alamat saya, nanti saya akan membawanya ke pak Ndeh, soalnya dia nggak punya nomer telepon. Untuk lengkapnya silakan kontak saja ke jalur pribadi (japri).

  62. 64 Niko December 13, 2008 at 2:08 pm

    -Tambahan buat Om Pittuo
    Membedakan Fongers BB yang paling mudah dari seri lain adalah
    dengan melihat ujung garpu/fork depan.
    Jika ujungnya membulat terbuka
    (seperti jari tangan jempol dan telunjuk dibuat membulat tapi terbuka)
    Bentuk seperti itu tidak akan ditemui pada ujung garpu/fork Fongers seri lain.

  63. 65 SLAMET SANTOSA January 20, 2009 at 5:37 am

    @ANDYT
    SALAM ONTHELIS,
    MODEL REM BOTOL PALING MUDA DIBUAT TAHUN BERAPA? SALAH SATU KERABAT PODJOK MEMPUNYAI FONGERS MODEL CCG 60 DENGAN VARIAN REM BOTOL, SERIAL NUMBER 22..-1( TAHUN 1922), NAMUN KONDISI SEPEDA SUDAH DI CAT ULANG DAN SERI DIPERJELAS DENGAN CAT WARNA EMAS. APA MUNGKIN ADA DUA VARIAN REM YANG BERBEDA PADA TAHUN PRODUKSI DAN MODEL YANG SAMA?
    TERIMA KASIH.

  64. 66 Niko January 20, 2009 at 11:12 pm

    punya siapa mas?
    Fongers sering mengeluarkan beberapa perbadaan, untuk model soort yg sama pada tahun yang sama. seperti:
    -bentuk rem(botol,kawat tebal,model klem lepasan & model klem menyatu pada frame),
    -bentuk keni bawah antara pipa tengah frame dan tempat baut bawah spakboard belakang(ada yg satu keni ada yg double depan belakang),
    -bentuk ujung fork tempat as depan untuk 1e soort B dan C bermacam-macam(ada yang model lubang tertutup sehingga agak sulit untuk masang as depan,itupun ada yg ujungnya rata ada juga yg sdikit cembung. ada juga yang model biasa seperti umumnya sepeda),
    -dll…,

  65. 67 Andyt January 21, 2009 at 3:20 am

    untuk Slamet Santosa,

    Dalam buku Fongers The Manumer 1887-1973 tidak dijelaskan secara tegas berkenaan sejak kapan model opsi ‘rem botol’ dibuat, demikian juga dari deskripsi Jos tentang hal itu, bahkan dia pernah mengklaim kalau sepedanya (BB65 1934)dikatakan sebagai sepeda tertua di Belanda yang ditemukan menggunakan opsi rem seperti itu. Padahal dari fenomena yang ditemukan di Indonesia saja sudah berbeda dengan klaim itu, contohnya saya punya dua sepeda BB (satu 60 dan yang satunya 65) yang menggunakan opsi rem botol, yang 60 buatan 1930, lalu yang 65 buatan tahun 1926. Dugaan saya, Fongers sama seperti produk sepeda Belanda umumnya yakni mengutamakan kebutuhan konsumen (kalau menurut teori posisioning Acker (1988), disebut sebagai pendekatan outside-inside marketing), artinya sepeda dibuat menyesuaikan dengan kebutuhan dan permintaan konsumen. Dalam pola pabrikan Fongers sangat jelas sekali terlihat bahwa konsumen memilih sepeda, lalu sepeda dipersiapkan seperti di buat sesuai pesanan ukuran, type, dan diketrik nomer frame. Baru 3 minggu kemudian sepeda di delivery ke konsumen. Logikanya kalau konsumen bisa memilih ukuran dan tipe yang diingini. Opsi rem juga dapat dipilih sekehendak hatinya. Rem botol ini termasuk ‘temuan baru’ dan menjadi trend di jamannya. Rem botol jadi pengembangan dari model rem kawat U yang diadaptasi bentuk rem Royal Sunbeam tahun 1920-an yang juga hampir setype. Tentu saja pertimbangan trend menjadi pertimbangan cukup signifikan bagi konsumen dalam membeli sepeda.

    Kalau dianalisa dari struktur konstruksi dan mekanis antara rem botol dengan rem kawat U standar Fongers sebelum era rem botol terdapat kesamaan bentuk jalur transmisi kawat rem dan sambungan dudukan di setang. Yang membedakan hanyalah komponen yang menempel di bagian garpu depan dan garpu belakang. Oleh karena itu besar juga kemungkinan terjadi penggantian model rem lama model U dengan rem botol pada sepeda yang opsi rem aslinya kawat model U. Tinggal ganti garpu depan belakang yang sesuai ukurannya.

    Herbert Kuner dalam salah satu suratnya dulu mengatakan bahwa Fongers pernah membuat program CSR (Corporate Social Responsibility) yakni memperbaiki dan merestorasi (termasuk memasang rem baru) pada sepeda Fongers yang dimiliki penduduk di Belanda. Ada kemungkinan rem botol ini termasuk sebagai komponen yang didistribusikan dalam kampanye CSR tersebut menggantikan rem kawat model U. Namun karena fragile, maka sulit lagi ditemukan dewasa ini. Atau ada kemungkinan pemasangan rem antara Fongers opsi baru ketika dulu beli dengan opsi CSR berbeda, sehingga sepeda yang seharusnya tidak memakai rem botol jadi bisa dipasangi rem botol dengan penyesuaian khusus di event itu.

    Seandainya CCG punya teman di PODJOK memang asli model rem botol, berarti ini hal yang luar biasa. Sebab ada kemungkinan sepeda itu bagian dari CSR Fongers sebagaimana sudah dijelaskan di atas. Ada kemungkinan juga aslinya bukan model rem botol, namun diganti rem botol oleh pemiliknya. Sebab kenyataannya saya belum pernah menemukan CCG dengan rem botol satu kalipun sebelumnya. Bahkan menurut klaim Jos, rem botol itu adalah opsi standar khusus BB yang sengaja dibuat khusus dan luxury sebagaimana konsep posisioning Fongers BB. Jadi kesimpulannya, ada banyak kemungkinan di saat semua penggemar sepeda mempunyai minat dan mengupayakan sepedanya sesuai dengan apa yang diingini dengan 1001 alasan atau kepentingan. Kita hanya melihat dampaknya dan mencoba menganalisa berdasarkan temuan dan fenomena lain yang kemungkinan berkaitan.

  66. 68 Faj January 21, 2009 at 6:13 am

    mas andyt maaf sekalian nyambung, kalau per dalam untuk stang simplex clycoide yang masuk ada referensi bengkelnya atau ada teman yang bisa ?

  67. 69 Andyt (mobile network) January 21, 2009 at 6:51 am

    mas Faj,

    Dulu saya pernah memperbaiki dibantu pak Yatno (mekanik Pakar) berdasarkan yang orisinil. Namun dari pengalaman fungsi per dalam setang kurang signifikan, sebab tolakan balik ketika dipakai pengereman juga dapat dihasilkan dari per pada kawat rem U di opsi Simplex rem karet, atau di bagian dalam tromol (seandainya setang speciall itu dipadukan dengan tromol). Perlu juga diketahui bahwa hanya sedikit setang yang per dalamnya masih ada dan berfungsi baik, sebab bagian per itu termasuk bagian konstruksi yang gampang rusak.

  68. 70 slamet santosa January 21, 2009 at 12:18 pm

    @niko
    sepeda CCG milik Mas Riza Londo, dia beli di bengkel sepeda Kalibayem milik Mbah Ngatijo.
    @andyt
    trima ksh untuk penjelasannya, sepeda ini pertama saya lihat di bengkel kalibayem, ditemukan tidak dalam kondisi utuh, tapi yang meyakinkan sepeda ini menggunakan rem botol adalah jalu di garpu belakangnya sedang garpu depan bkn aslinya, Rem sudah tidak ditemukan.Semua sama persis dengan MODEL BB kecuali ujung supitan belakang tanpa penyetel tegangan rantai.
    CSR fongers dilakukan dengan menambahkan jalu atau mengganti garpu belakang keseluruhan, karena sebelum dicat tidak ada tanda-tanda pernah dilas/disambung sebelumnya?

  69. 71 Niko January 21, 2009 at 5:01 pm

    saya dua kali melihat di Kalibayem Fongers
    bukan BB memakai garpu dan supitan vertikal bawah sadel
    yg terdapat dudukan seperti BB rem botol.

  70. 72 Niko January 21, 2009 at 5:09 pm

    dua-duanya CCG.
    Kemungkinan betul yg dikatakan Mas Andyt,
    rem botol merupakan bentuk CSR dari Fongers..,
    namun kenyataannya kuatan mana antara rem botol dan kawat u?

  71. 73 Andyt January 22, 2009 at 2:51 am

    Kalau masalah kekuatan, faktor pemakaian dan perawatan sangat dominan! Sebab kecenderungan pemakaian dan perawatan yang salah atau serampangan akan mempercepat kerusakan komponen sepeda yang memang sudah fragile dari desain konstruksinya. Kelangkaan komponen rem Fongers (baik yang kawat U ataupun botol)sekarang ini, menurut saya juga disebabkan dari kelangkaan distribusi dan pemasaran sepeda Fongers di Indonesia masa lalu. Fongers adalah sepeda yang mahal dan untuk varian BB, CCG, dan HZ hanya golongan tertentu saja yang mampu membelinya, sementara fungsinya nggak beda dengan sepeda merek lain yang lebih terjangkau masyarakat, misalnya Neo, Philips, atau yang lainnya. Paling nggak konsep fungsi dari sisi gengsi/prestise saja yang diutamakan ketika orang membeli Fongers BB atau CCG. Sementara sepeda dengan posisioning demikian juga muncul dari varian merek lain, misalnya Cycloide Simplex, Gazelle seri 8K, Gazelle seri 12, atau The Royal dari Sunbeam. Makin banyak saingannya sehingga jaman dulupun sudah langka orang yang memiliki Fongers varian tersebut.

    Sekarang ini menurut pengamatan dan hitungan saya berdasarkan keterlibatan di event dan paguyuban Kosti Indonesia, tak lebih dari 15 buah sepeda Fongers BB, dan sekitar 15 juga untuk CCG di Indonesia. Itupun tidak semua komponen remnya masih orisinil 100%, namun bisa berfungsi mengerem dengan baik.

  72. 74 Andyt January 22, 2009 at 3:06 am

    @ slamet sentosa
    Ada kemungkinan dilas sambungan, ada kemungkinan garpu punya BB yang dimodifikasi menyesuaikan pakem BB. Kalau sekedar menyambung tanpa teridentifikasi sambungannya, banyak ahli las yang mampu melakukan. paling nggak saya menemukan 3 diantara ahli itu, yakni Pak Makmun, mekaniknya PASKAS atau pak Asmanu dan haji Azkur PAKAR yang sangat trampil dan meyakinkan mampu menyambung komponen sepeda dengan teknik canggih (cor, argon system) yang TIDAK MAMPU DIDETEKSI lagi sambungannya. Bukan orang awam saja yang ‘tertipu’, namun blantik dan bahkan pengamat sepeda seperti saya saja terkadang hanya mampu mendeteksinya dari hal-hal lain diluar aspek sambungan, misalnya selisih ukuran 0,5-1 mm dari standarnya bukan dari bekas potongannya.

    Saya sedang mendiskusikan bagaimana merubah Fongers DZ55 1926 pakem torpedo (frame mulus tanpa tuas dudukan rem)menjadi pakem rem model kawat U. Kata mereka itu semudah membalikkan tangan. Kebetulan saya punya contoh asli bagaimana bentuk dan dimensi ukuran komponen untuk transmisi rem model U Fongers DZ/HZ.

    Jika itu bagian dari CSR Fongers, tentu saja mereka sangat mampu menciptakan modifikasi garpu dengan kecanggihan sebagaimana mereka menciptakan sepedanya.

  73. 75 Niko January 22, 2009 at 3:06 pm

    saya kira terlalu sedikit jika hanya 15 BB dan 15 CCG.
    saya aja pernah punya 4 BB cuma semuanya gak asli remnya,
    Mas Rustam Jenggot dah pernah punya sekitar 4 ato 5 BB, Mas Riza punya BB gak tau berapa kayaknya satu dah lewat tu,
    Mas Gondes punya 2 BB, Mas Bagus punya BB, Wongeres punya BB55, Mas Imam punya BB65, Apalgi Yudi Marcopolo dah
    belasan dapet BB klo cuma rangka, dan di Kota Gede dan Bantul masih banyak yg punya BB(itu baru Jogja lho…)
    Cuma memang yg sistem remnya masih asli SANGAT LANGKA yang punya,setahuku sekarang di Jogja gak sampai 10 sepeda saja.

    berdasarkan jumlah produksi Fongers tahun 1923
    BD->100
    BB->500
    DZ->600
    HZ->1500

    namun kenyataannya di Jogja lebih susah mencari DZ dari pada BB..,
    gak tau kenapa? setahuku yg pernah punya cuma aku(3 DZ yg salah satunya ke Mas Andyt dan ke Bang Madi) dan beberapa orang saja di Jogja.

  74. 76 Niko January 22, 2009 at 3:13 pm

    Fongers cewek BD dan BDG….gak tau kenapa langka abiz!!!
    ngeliat langsung aja belum aku pernah,
    baru ngeliat fotonya aja itupun foto sepeda di Belanda.
    Pengen banget liat aslinya…,

  75. 77 Andyt January 23, 2009 at 2:02 am

    Mungkin yang kamu lihat jumlahnya lebih banyak dari pengamatanku, atau mungkin pula yang kau lihat barangnya sama namun telah pindah ke orang lain dan dihitung lebih dari satu.

    Tapi sebenarnya INTI yang hendak saya sampaikan kemarin adalah BB itu sangat sedikit jumlahnya dibanding dengan varian Fongers lain. Dari data Fongers saja dapat diketahui kalau hanya dibuat 500 buah untuk BB, dan 100 buah untuk DB di tahun 1923(http://www.rijwiel.net./fonprodn.htm). Saya yakin yang masuk ke Indonesia lebih kecil lagi jumlahnya. Di Surabaya dan Sidoarjo saya menjumpai hanya ada 6 BB, (Sandy, aku (2), Pandu, haji Tris, Sapto (BB55)) Berkali mereka saya tekankan untuk jangan sekali-kali melepasnya, karena langka. Kalau DB55, ada barangnya satu di Kediri, kepunyaan haji Amir Fattah. Orisinil, cat habis produk sekitar tahun 1930 dan rem botol masih OK, namun pernah saya tawar nggak dilepas. Nggak tahu sekarang masih ada disana atau tidak. Ironisnya, upload BB saya di internet membuat akhirnya orang juga latah memburu BB, sehingga saya sendiri akhirnya kesulitan memperoleh dan harganya jadi luar biasa mahalnya. Resiko memang.

  76. 78 Faj January 23, 2009 at 2:46 am

    ada kecederungan bahwa apa yang di bahas akan menjadi trend setelah orang makin tahu, tentang ada resiko dengan harga yang akan terjadi sesuai dengan akidah hukum ekonomi, terpikir juga thank god punya fongers seri yang H ( cheaper )tetapi awet karena desain yang lebih sederhana.bagaimana nasib seri-seri yang murah adakah terpikir bahwa mereka diciptakan kasta sudra ? sehingga akan terpinggirkan ?

  77. 79 Niko January 23, 2009 at 6:43 pm

    Sekedar saran ringan tuk 1930 BB diatas..
    baut penjepit dibawah stang murnya ada disebelah kiri sepeda
    aslinya mur disebelah kanan.

    Klo cuma kondisi rangka Fongers BB masih mudah di jumpai di Jogja dan sekitarnya tidak sedikit yang dibayangkan…,

    Kemarin waktu ultah PODJOK disebelah barat ada Fongers cewek pakai rem botol, cuma pas ku liat seri tertulis BB 60 dan kuamati lebih detail ternyata aslinya BB dirubah jadi sepeda cewek.
    rem botol pun hasil reproan bikinan baru.
    jadi penasaran dengan BD55 yg di Kediri…,

    Fongers BB memang sekarang sudah terkenal dimana-mana tu sepeda yg banyak dicari otomatis harga jadi mahal..ya itu resiko terkenal.

    F

  78. 80 slamet santosa January 25, 2009 at 5:01 am

    CSR merupakan bentuk pertanggung jawaban pabrik akan kerusakan seluruh fasilitas sepeda dan mungkin bukan masalah opsi rem saja apakah botol atau U. Sebetulnya kapan CSR dilakukan?dimana apakah juga dilakuan di indonesia?
    Saya ragu, apabila sebelumnya menggunakan rem U kemudian rusak dan digantikan rem botol?Kalaupun si pemilik pengen ganti rem botol, harus ada 1 sepeda fongers opsi rem botol yang dikorbankan(diambil remnya) karena setahu saya remnya tidak dijual terpisah.Saya yakin dia lebih memilih ganti rem tromol(kalau sdh ditemukan) atau karet biasa.
    Di Jogja saya sudah menemui 3 model dengan opsi rem botol BB, CCG, dan DZ.Dari alasan diatas, saya lebih cenderung ketiganya asli menggunakan rem botol dari pabriknya. Di kotagede ada satu CCG 55 rem botol milik ucok masih orisinil plus SA 3 SPEEDnya.

  79. 81 JENDRA January 27, 2009 at 2:05 am

    Numpang nanya nich para pakar,
    apa bener kalo fongers seri H itu paling rendah/murah?
    coz saya punya seri H 62.
    matur nuwun

  80. 82 pokijan January 27, 2009 at 10:50 pm

    Salam mas Andyt,

    Kalau Fongers BB 60 “rem botol” 2913-9, apa arti nomer-nomer tersebut dan tahun berapa sepeda itu diproduksi?

    Terimakasih atas pencerahannya…

  81. 83 slamet santosa January 28, 2009 at 2:10 am

    @jendra
    Fongers H memang paling murah, karena fasilitas minimumnya. Kalau dikendarai saya yakin sama enaknya……Dan mungkin punya bpk H 60(24an)atau H 65(26an) mungkin ada bagian yang sudah terkikis.
    @pokijan
    Fongersnya buatan tahun 1929…

  82. 84 Niko January 29, 2009 at 4:37 pm

    untuk masalah CRS Fongers ku tanya dengan Meneer-meneer di Londo sementara belum ada kejelasan.

  83. 85 Niko January 31, 2009 at 11:56 pm

    Barangkali Mas Andyt atau onthelis lain ada yg punya info lebih tentang CSR Fongers?

  84. 86 ienoenk February 11, 2009 at 6:53 am

    mas2 sekalian…
    saya baru saja mendapatkan Fongers.. H60 serie 3944-55
    klo boleh tau itu bikinan tahun brp yaks..?? n kira2 ada gbr lengkapnya tempo doeloe nggak..??

    pengen di pugar neh… tapi ya nunggu klithikan ny dapat dulu.. heheheeh
    matur suwun.

  85. 87 Cak Ipul February 12, 2009 at 12:50 am

    Salam onthel semuanya….
    aq punya sepeda fongers yang ada tulisan HF 55 didepan dibawah stang, terus seri no.nya H 922 itu buatan tahun berapa ?

  86. 88 Niko February 14, 2009 at 10:40 pm

    ienoenk, sepedanya buatan tahun 1939
    gambar tempo doeloenya seperti ini:

    http://www.fongers.net/19301940.htm

    cak ipul, sepedanya buatan tahun 1952

  87. 89 slamet santosa February 19, 2009 at 12:12 pm

    Salam onthel,
    saya pernah melihat sepeda fongers H 55 tahun 1951 namun dengan garpu belakang kanan dan kiri bertuliskan made in england, mohon pencerahannya?

  88. 90 Niko February 19, 2009 at 3:23 pm

    Kemungkinan garpu belakang tersebut sudah bukan aslinya lagi. Fongers semua part dan asesorisnya pernah diproduksi sendiri kecuali rantai,hub/bos,tromol,persneling,ruji,velg.

  89. 91 boim February 20, 2009 at 4:54 am

    telah ditemukan frame BB-60 tahun 1925 di pajakoemboeh sum-bar. ternyata di sumatra juga ada fongers yg terkenal itu. hayo sapa yg mau hunting ke sum-bar??

  90. 92 BB February 21, 2009 at 2:16 pm

    Barangkali mas Andyt bisa ngasih gambaran, kira-kira untuk bikin rem botol made in Waru Sidoarjo, berapa biaya yg mesti sy persiapkan?

    Suwun

  91. 93 slamet santosa February 23, 2009 at 4:57 am

    @niko
    saya pernah tanya pemilik bengkel di kalibayem, beliau pernah melihat fongers dengan garpu belakang made in england lebih dari 2 kali dan semuanya H 55, gimana??

  92. 94 Niko February 23, 2009 at 4:11 pm

    -Buat Slamet Santosa
    silahkan kirim foto sepedanya usahakan detail garpu belakangnya.
    kirim aja ke: okin.dibalik@gmail.com
    nanti ane pelajari lebih lanjut.

  93. 95 Andyt February 25, 2009 at 7:35 am

    buat mas BB,
    silakan lewat jalur pribadi saja, di andrian@peter.petra.ac.id atau add saya di Face Book. Kebetulan kemarin saya juga buat sebiji untuk CCG60 rem botol saya, hasilnya… bahkan Jos aja pengin….


  1. 1 FONGERS BB60 (1930) « WIRA-WIRI NAEK SEPEDA Trackback on September 18, 2008 at 5:01 am
  2. 2 FONGERS BB60 2913-9 (1929) « Sepedaonthelkebo.wordpress.com Trackback on July 17, 2009 at 1:43 pm
Comments are currently closed.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: